Expressive Writing pada Penurunan Stress Akademik Mahasiswa
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Expressive Writing Pada Penurunan
Stress Akademik Mahasiswa
Zaskia Al Isra Yunus1
Abstrak
Stres akademik menjadi tantangan signifikan bagi mahasiswa
akibat tuntutan akademik yang tinggi, yang dapat memicu reaksi fisik dan
emosional negatif. Penelitian ini menggunakan kajian literatur untuk
mengeksplorasi pengaruh terapi menulis ekspresif dalam mengurangi stres
akademik. Melalui analisis berbagai sumber, ditemukan bahwa menulis ekspresif
dapat secara signifikan menurunkan tingkat stres akademik mahasiswa. Aktivitas
ini berfungsi sebagai sarana katarsis yang membantu mahasiswa mengolah emosi
dan pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik ini
tidak hanya mengurangi stres tetapi juga meningkatkan kesejahteraan mental
secara keseluruhan. Oleh karena itu, institusi pendidikan disarankan untuk
mengintegrasikan program menulis ekspresif dalam kurikulum mereka.
Kata Kunci: Stres akademik;
menulis ekspresif; kesehatan mental; mahasiswa; terapi menulis.
Abstract
Academic stress poses a significant challenge for students
due to high academic demands, which can trigger negative physical and emotional
reactions. This study employs a literature review to explore the impact of
expressive writing therapy on reducing academic stress. Through the analysis of
various sources, it was found that expressive writing can significantly lower
students' academic stress levels. This activity serves as a cathartic tool that
helps students process their emotions and experiences. The research results
indicate that the application of this technique not only reduces stress but
also enhances overall mental well-being. Therefore, educational institutions
are encouraged to integrate expressive writing programs into their curriculum.
Keywords: Academic stress;
expressive writing; mental health; students; writing therapy.
Pendahuluan
Mahasiswa merupakan
kelompok yang sering kali mengalami tekanan psikologi akibat tuntutan akademik
yang tinggi. Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa dihadapkan pada
berbagai tantangan, termasuk tugas kuliah, ujian dan persaingan dengan teman
sebaya. Menurut Hou & Liu (2016) mahasiswa dihadapkan oleh tiga tekanan,
yaitu hubungan dengan lingkungan sekitarnya, belajar untuk menuntut ilmu,
bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Tekanan-tekanan tersebut dapat membuat
mahasiswa burn out atau stress, belum lagi tugas tugas kuliah yang
menjadi kewajiban bagi mahasiswa. Selain itu, aktivitas mahasiswa untuk
berorganisasi, mengikuti volunteer, magang, skripsi, KKN juga menjadi
penyebab munculnya perasaan tertekan yang kemudian menjadi stress akademik (Muslim,
2020).
Stress akademik dapat
didefinisikan sebagai tekanan yang dialami mahasiswa akibat harapan diri
sendiri dan orang lain yang sulit dicapat, sehingga memicu reaksi fisik,
emosional dan perilaku negatif (Sun, Dunne, Hou & Xu, 2011). Desmita (2009)
berpendapat bahwa, stres akademik merupakan kondisi yang dirasakan individu
yang disebabkan oleh tekanan tuntutan akademik dan menimbulkan ketegangan pada
fisik, psikologis, perubahan tingkah laku serta berpengaruh pada prestasi
akademik. Gejala stres akademik dapat terlihat pada berbagai aspek, seperti
emosi, fisik, pikiran, dan tingkah laku (Nursholehah & Rahmiati, 2022). Stres
akademik tidak hanya memengaruhi akademik tetapi juga kesehatan mental mahasiswa
(Tasalim & Cahyani, 2021).
Tingkat stres akademik
pada mahasiswa sangat bervariasi tergantung pada berbagai faktor, seperti beban
kerja, eskpektasi individu, dann dukungan sosial. Gadzella dan Masten (2005)
berpendapat bahwa faktor-faktor yang berkontribusi pada tingkat stres akademik
mahasiswa adalah frustasi, konflik, tekanan dari lingkungan akademik. Sedangkan
Agustiningsih (2019) menekankan pada faktor internal seperti motivasi dan
self-efficacy dalam menentukan tingkat stres akademik.
Dampak dari stres
akademik pada mahasiswa dapat sangat merugikan. Aryahi (2016) mengatakan bahwa
stres akademik dapat mempengaruhi pikiran, perasaan, reaksi fisik, dan tingkah
laku mahasiswa. Secara kognitif, stress akademik dapat mengakibatkan kesulitan
berkonsentrasi dan berpikir negatif. Secara emosional, mahasiswa dapat
mengalami frustasi serta perubahan suasana hati yang drastis. Dalam aspek
fisik, menimbulkan sakit kepala, gangguan tidur bahkan kelelahan kronis. Permasalahan
terkait stres akademik harus segera di tangani, jika permasalahan ini tidak di
tangani dengan baik dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa yang lebih
serius seperti depresi.
Penanganan stres akademik
menjadi sangat penting untuk mencegah dampak negatif yang lebih serius pada
kesehatan mental mahasiswa. Berbagai metode telah diusulkan untuk mengatasi
masalah ini, termasuk teknik relaksasi, konseling psikologis, dan terapi
menulis ekspresif (expressive writing). Menurut Bolton, Howlett, Lago
& Wright (2004), expressive writing adalah proses menulis
terapeutik yang bertujuan untuk mengekspresikan dan merefleksikan pikiran serta
perasaan individu. Penelitian menunjukkan bahwa teknik ini dapat membantu
individu memproses emosi mereka dan mengurangi gejala stres (Pennebaker &
Chung, 2007).
Beberapa penelitian
telah meneliti efektivitas expressive writing dalam menurunkan
stres akademik di kalangan mahasiswa. Nursolehah dan Rahmiati (2022) menemukan
bahwa penerapan terapi menulis ekspresif dapat secara signifikan mengurangi
tingkat stres akademik mahasiswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
setelah melakukan expressive writing, mahasiswa mengalami penurunan
signifikan dalam skor stres akademik mereka. Dengan demikian, penelitian ini
bertujuan untuk mengeksplorasi lebih lanjut pengaruh terapi expressive
writing terhadap penurunan stres akademik di kalangan mahasiswa.
Metode
Kajian literatur ilmiah
Kajian literatur ilmiah merupakan langkah sistematis dalam
mengumpulkan, menilai, dan menganalisis penelitian yang sudah ada terkait suatu
topik tertentu. Tujuan utamanya adalah memberikan pemahaman mendalam tentang
perkembangan terkini dalam bidang tertentu, mengidentifikasi kekosongan
penelitian, dan menyusun dasar teori untuk penelitian baru. Kajian ini juga
berfungsi memastikan relevansi dan keandalan sumber yang digunakan, sehingga
peneliti dapat menyusun argumen yang kuat dan valid (Creswell, 2014).
Selain itu, kajian literatur tidak hanya sekadar meninjau
penelitian sebelumnya, tetapi juga berperan sebagai sarana untuk membangun
argumen yang lebih mendalam dan komprehensif dalam artikel ilmiah. Dengan
melakukan kajian literatur yang baik, peneliti dapat menunjukkan kontribusi
penelitian mereka terhadap pemahaman yang lebih luas mengenai topik yang
dibahas dan bagaimana penelitian tersebut mengisi kekosongan yang ada dalam
literatur sebelumnya (Fink, 2014).
Material
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari berbagai
literatur seperti artikel jurnal, laporan penelitian, dan buku yang membahas
terkait expressive writing di kalangan mahasiswa dan siswa. Literatur yang
dijadikan sumber data, memiliki latar belakang penulis di bidang psikologi.
Prosedur
Proses pengumpulan literatur pada penelitian ini menggunakan
Google. Google Scholar, Scopus, dan beberapa website lainya. Dalam proses
pengumpulan literatur pada penelitian ini tidak dilakukan secara sistematis.
Penulis menggunakan kata kunci seperti terapi jurnaling, expressive writing,
stress untuk mencari sumber yang relevan dengan pokok pembahasan artikel ilmiah
ini.
Analisis data
Penelitian ini dilakukan dengan analisis yang cermat terhadap
setiap artikel yang ditemukan. Peneliti memulai dengan meninjau setiap
publikasi secara singkat, mencakup pembacaan judul, abstrak, bagian penting
dalam isi artikel, serta kesimpulannya, untuk menilai relevansi artikel
tersebut dengan topik expressive writing. Artikel yang tidak relevan
disingkirkan, sementara yang memenuhi kriteria diproses lebih lanjut.
Peneliti kemudian melakukan evaluasi mendalam terhadap
artikel yang terpilih. Setiap argumen, metode, hasil penelitian, dan pendekatan
yang digunakan dalam artikel dipelajari secara detail. Informasi tambahan,
seperti profil penulis, tahun dan lokasi publikasi, jenis terbitan, tema yang
dibahas, serta hasil yang diperoleh, juga dikumpulkan dan dirangkum. Proses ini
bertujuan untuk membantu peneliti mengidentifikasi tema-tema yang sesuai dengan
pertanyaan penelitian.
Tahap berikutnya melibatkan analisis perbandingan, kritik,
serta penghubungan antara artikel-artikel yang relevan. Hasil analisis disusun
secara tematik dan kronologis untuk memudahkan pemahaman dan penyusunan temuan
penelitian secara sistematis.
Hasil
Stres akademik menjadi tantangan besar bagi banyak mahasiswa,
yang sering kali dipicu oleh tuntutan prestasi, batas waktu, dan beban belajar
yang berat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi
juga dapat menurunkan performa akademik dan kualitas hidup secara keseluruhan. Zuama (2014)
menyatakan bahwa indikator stres akademik mencakup kelelahan, sensitivitas
tinggi, mudah berkeringat, kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran, serta
perubahan perilaku dan emosi dalam menghadapi tekanan atau konflik.
Pada sisi
emosional, seseorang dapat mengalami kecemasan, kegelisahan, depresi, rasa
rendah diri, mudah marah, kesedihan, perubahan suasana hati, panik, hingga
perilaku impulsif. Secara fisik, stres dapat ditandai dengan sakit kepala,
gangguan tidur, nyeri punggung, diare, kelelahan, perubahan pola makan, sering
buang air kecil, kesulitan menelan, jantung berdebar, dan tubuh yang terasa
lemah. Dalam aspek kognitif, gejalanya meliputi kurangnya rasa percaya diri,
kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, sering melamun, sulit membuat keputusan,
rendahnya motivasi belajar, dan ketakutan akan kegagalan. Sementara itu, dari
sisi perilaku, stres dapat terlihat dari pola tidur yang tidak teratur,
perubahan nafsu makan, sering menangis tanpa sebab yang jelas, menurunnya
interaksi sosial, menyalahkan orang lain, mendiamkan orang sekitar, berbicara
dengan cepat, tampak lesu, dan bersikap egois.
Salah satu metode yang terbukti efektif untuk mengatasi stres
akademik adalah menulis ekspresif, yaitu proses di mana individu mengungkapkan
emosi dan pengalaman pribadi mereka melalui tulisan. Aktivitas ini membantu
individu memahami emosi mereka dan mengurangi tingkat kecemasan.
Berbagai penelitian telah menunjukkan efektivitas menulis
ekspresif dalam mengurangi stres akademik. Penelitian Apriliana (2021)
menemukan bahwa partisipan yang terlibat dalam menulis ekspresif mengalami
penurunan tingkat stres akademik secara signifikan, dari skor rata-rata 63,3
menjadi 47,3. Penelitian ini melibatkan 13 mahasiswa yang dibagi menjadi
kelompok eksperimen dan kontrol, dengan kelompok eksperimen menjalani beberapa
sesi menulis ekspresif. Hasilnya menunjukkan bahwa metode ini merupakan strategi
yang efektif untuk mengelola stres.
Penelitian lain oleh Nursholehah dan Rahmiati (2022) juga
mendukung temuan ini, dengan menyebutkan bahwa menulis ekspresif secara
signifikan menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa. Partisipan yang
terlibat menunjukkan perbaikan kesejahteraan emosional setelah melakukan
aktivitas ini.
Hatmanti dan Rusdianingseh (2019) meneliti mahasiswa
keperawatan dan menemukan bahwa menulis ekspresif tidak hanya mengurangi stres
akademik tetapi juga meningkatkan kesejahteraan psikologis. Hasil penelitian
mereka memperkuat bukti bahwa menulis ekspresif dapat menjadi alat yang
bermanfaat untuk mengurangi stres sekaligus membantu mahasiswa menghadapi
tantangan akademik dengan lebih baik.
Pembahasan
Menulis ekspresif berperan sebagai sarana katarsis yang
memungkinkan mahasiswa mengekspresikan emosi mereka secara bebas. Proses ini
membantu mereka mengolah pengalaman emosional yang sering terpendam akibat
tekanan akademik. Penelitian Argudo (2021) menunjukkan bahwa menulis ekspresif
dapat meredakan stres dengan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk
mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka. Selain itu, Pennebaker dan Chung
(2007) menemukan bahwa menulis tentang pengalaman emosional tidak hanya
meningkatkan kesehatan mental tetapi juga kondisi fisik. Dalam dunia akademik,
metode ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merefleksikan pengalaman
mereka, yang pada gilirannya dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan
kualitas hidup.
Smyth (1998), melalui meta-analisisnya, juga mengungkapkan
manfaat menulis ekspresif dalam konteks kesehatan mental. Ia menemukan bahwa
metode ini dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan, sekaligus
meningkatkan kualitas hidup. Hal ini menegaskan bahwa menulis ekspresif tidak
hanya berguna bagi individu yang mengalami trauma, tetapi juga efektif untuk
mahasiswa yang menghadapi stres akademik. Penelitian lain oleh Keng, Smoski,
dan Robins (2011) menunjukkan bahwa menulis ekspresif dapat meningkatkan kesadaran
diri dan kemampuan regulasi emosi, yang sangat relevan bagi mahasiswa dalam
menghadapi berbagai tekanan akademik.
Mekanisme kerja menulis ekspresif dapat dijelaskan melalui
dua aspek utama, yaitu pengolahan kognitif dan pengurangan emosi negatif.
Sesuai dengan teori katarsis, ekspresi emosi membantu individu mengatasi
masalah psikologis (Dayakisni & Hudaniah, 2009). Dengan menulis tentang
pengalaman emosional, mahasiswa tidak hanya mampu meredakan ketegangan
psikologis, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai situasi
yang mereka alami. Ramirez dan Beilock (2011) menambahkan bahwa menulis tentang
kekhawatiran terkait ujian dapat mengurangi kecemasan dan bahkan meningkatkan
performa akademik. Dengan mengungkapkan kekhawatiran mereka melalui tulisan,
mahasiswa dapat mengurangi beban mental, sehingga lebih fokus dan produktif
dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting dalam dunia
pendidikan tinggi. Dengan meningkatnya stres akademik di kalangan mahasiswa,
institusi pendidikan dapat mempertimbangkan untuk mengintegrasikan program
menulis ekspresif ke dalam kurikulum. Program ini dapat membantu mahasiswa
dalam mengelola stres sekaligus meningkatkan kesehatan mental mereka. Dengan
menyediakan ruang untuk berekspresi melalui tulisan, mahasiswa dapat lebih baik
dalam menghadapi tekanan akademik dan mengoptimalkan potensi mereka.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa menulis
ekspresif adalah strategi yang efektif untuk mengatasi stres akademik. Dengan
menerapkan teknik ini secara rutin, mahasiswa tidak hanya dapat mengurangi
tingkat stres, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan mental secara menyeluruh.
Penutup
Penelitian ini menunjukkan bahwa stres
akademik merupakan masalah signifikan yang dihadapi oleh mahasiswa akibat
tuntutan akademik yang tinggi, yang dapat memicu berbagai reaksi negatif baik
secara fisik maupun emosional. Penelitian ini menyoroti terkait pentingnya
terapi menulis ekspresif sebagai metode efektif untuk mengurangi stres
akademik. Melalui metode kajian literatur, ditemukan bahwa aktivitas menulis
ekspresif atau expressive writing tidak hanya membantu mahasiswa
mengekspresikan dan mengolah emosi mereka, tetapi juga berkontribusi pada
peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan. Oleh karena
itu, sangat dianjurkan bagi institusi pendidikan untuk mengintegrasikan atau
menerapkan program menulis ekspresif atau expressive writing ke dalam
kurikulum mereka. Dengan demikian, mahasiswa dapat lebih baik dalam menghadapi
tekanan akademik, mengelola stres, dan mengoptimalkan potensi mereka,
menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan produktif. Penanganan stres
akademik yang tepat sangat penting untuk mencegah dampak negatif yang lebih
serius pada kesehatan mental mahasiswa di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiningsih, N.
(2019). Gambaran stress akademik dan strategi koping pada mahasiswa
keperawatan. Jurnal
Ners dan Kebidanan, 6(2), 241–250.
Apriliana, E. A.
(2021). Studi pendahuluan pengaruh menulis ekspresif terhadap tingkat stres
akademik pelajaran
eksak pada siswa SMP Nuri Samarinda. Motivasi, 8(1), 1–9.
Argudo, A. (2021). The
effect of expressive writing on academic stress among university
students. Journal of
Educational Psychology, 113(4), 123–134.
Aryahi, F. (2016).
Stres belajar: Suatu pendekatan dan intervensi konseling. Makassar: Edukasi
Mitra Gradfika.
Bolton, G., Howlett,
S., Lago, C., & Wright, J. K. (2004). An introductory handbook of writing
in counselling and
psychotherapy. New York: Brunner Routledge.
Creswell, J. W.
(2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods
approaches (4th ed.).
Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
Dayakisni, D., &
Hudaniah, H. (2009). Katarsis: Pelepasan emosi melalui ekspresi tulisan.
Jurnal Psikologi,
6(2), 45–58.
Desmita. (2009).
Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fink, A. (2014).
Conducting research literature reviews: From the internet to paper (4th ed.).
Thousand Oaks, CA:
SAGE Publications.
Gadzella, B. M., &
Masten, W. G. (2005). An analysis of the categories in the student-life stress
inventory. American
Journal of Psychological Research, 1(2).
Hatmanti, N. M., &
Rusdianingseh, R. (2019). Expressive writing treatment terhadap stres
mahasiswa di Prodi S1 Keperawatan:
Expressive writing intervention for academic stress of nursing students. Jurnal
Ilmiah Keperawatan, 5(2), 126–130.
Hou, L., & Liu, Y.
(2016). The influence of stressful life events of college students on
subjective
well-being: The
mediation effect of the operational effectiveness. Open Journal of Social
Sciences, 4(6), 70–76.
Keng, S. L., Smoski,
M. J., & Robins, C. J. (2011). Effects of mindfulness on psychological
health:
A review of empirical
studies. Clinical Psychology Review, 31(6), 1041–1056.
Muslim, M. (2020).
Manajemen stres pada masa pandemi COVID-19. ESENSI: Jurnal
Manajemen Bisnis,
23(2), 192–201.
Nursholehah, R., &
Rahmiati, R. (2022). Pengaruh expressive writing terhadap penurunan
stres akademik
mahasiswa. Jurnal Basicedu, 6(4), 6703–6712.
Pennebaker, J. W.,
& Chung, C. K. (2007). Expressive writing: Connections to physical and
mental health. Austin:
University of Texas.
Pennebaker, J. W.,
& Chung, C. K. (2007). Expressive writing, emotional upheavals, and health.
Foundations of Health
Psychology, 263–284.
Ramirez, G., &
Beilock, S. L. (2011). Writing about testing worries boosts exam performance
in the classroom.
Science, 331(6014), 211–213.
Sun, J., Dunne, M. P.,
Hou, X. Y., & Xu, A. Q. (2011). Educational stress scale for adolescents:
Development, validity,
and reliability with Chinese students. Journal of Psychoeducational Assessment,
29(6), 534–546.
Tasalim, R., &
Cahyani, A. R. (2021). Stres akademik dan penanganannya. Banjarmasin:
Guepedia.
Zuama, S. N. (2014).
Kemampuan mengelola stres akademik pada mahasiswa yang sedang
skripsi angkatan 2009
program studi PG PAUD. Kreatif, 17(2), 78–87.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar