Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno
Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno
1.
Definsi Psikologi dalam Konteks Yunani Kuno
Sejarah psikologi terbagi dalam rentang waktu yang lama. Periode paling awal dari sejarah psikologi adalah pada zaman Yunani Kuno sebelum adanya penanggalan Masehi. Pada masa ini, psikologi masih menjadi bagian dari ilmu filsafat. Memasuki abad ke-5 hingga ke 6 Masehi, psikologi telah dihubungkan dengan dua teologi besar dari bangsa Yunani, yaitu Olympian dan Orfisme. Pada Abad Pertengahan, filsuf muslim seperti Al-Kindi mulai mengkaji tentang psikologi di dalam karya-karya tulisnya. Sejarah psikologi kemudian berlanjut pada abad ke-17 hingga abad ke-18 dengan status psikologi masih sebagai wacana yang kemudian mulai diperdebatkan. Perdebatan ini mengenai objek dan prosedur kajian yang layak dimasukkan sebagai bagian dari psikologi. Sejarah psikologi sebagai disiplin ilmiah yang terpisah dari filsafat dimulai pada akhir abad ke-19 dengan pendirian laboratorium psikologi yang pertama oleh Wilhelm Wundt di Leipzig, Jerman. Setelah menjadi disiplin ilmiah tersendiri, sejarah psikologi berlanjut ke spesialisasi yang kemudian memunculkan cabang-cabang keilmuannya.
a.
Sejarah nama
Nama "psikologi" berasal dari bahasa Yunani.
Penamaannya diperoleh dari dua kata, yaitu psyche dan logos. Kata psyche
berarti jiwa, sedangkan logos berarti ilmu. Dalam pengertian ini, psikologi
berarti ilmu jiwa atau ilmu tentang jiwa manusia.
b.
Sebelum Masehi
Pada zaman Yunani Kuno, semua jenis ilmu dimasukkan sebagai bagian dari
filsafat, termasuk psikologi. Ini dikarenakan para pemikir di masa Yunani
Kuno menganggap filsafat sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan.
Karenanya, psikologi menerima pengaruh yang kuat dari ilmu filsafat. Para
ahli Yunani Kuno membahas psikologi utamanya mengenai hakikat jiwa dan
gejala yang mencirikannya. Para ahli psikologi pada masa ini adalah para
filsuf. Dua diantaranya adalah Plato (429–347 SM) dan Aristoteles (384–322
SM).Setelah keruntuhan peradaban Yunani Kuno, kajian mengenai jiwa mulai
dilupakan.
c.
Abad ke-5 dan ke-6 Masehi
Pada abad ke-5 dan abad ke-6 Masehi, bangsa Yunani mulai mengaitkan segala sesuatu yang terjadi di alam dengan kepercayaan mengenai agama. Pada masa ini ada dua jenis teologi yang utama, yaitu ajaran agama Olympian dan agama Orfisme. Ajaran agama Olympian merupakan kepercayaan terhadap Dewa-Dewa yang terdapat di dalam puisi-puisi Homeros. Dalam ajaran ini, para Dewa prihatin dan cemas akan kelangsungan hidup manusia. Dalam ajaran agama Olympian, jiwa merupakans sesuatu yang tidak dapat mati. Namun jiwa terpisah dari ingatan maupuni sifat kepribadian dari tubuh manusia yang menjadi tempat kediamannya.
Sedangkan ajaran agama Orfisme banyak dianut oleh para penduduk Yunani Kuno yang kondisi ekonomi dan politiknya mengalami ketidakpastian. Penganutnya merupakan penduduk yang hidup dalam kemiskinan dan tidak menerima pendidikan, seperti petani, buruh dan budak. Seluruh ajaran agama Orfisme dihubungkan dengan legenda mengenai dewa vegetasi yang bernama Dionisos dan muridnya yang bernama Orfeus. Ajaran utama dari Orfisme adalah kepercayaan terhadap adanya transmigrasi jiwa. Ajaran Orfisme meyakini adanya siklus kelahiran. Jiwa manusia diyakini telah ada bersama dengan keberadaan ilahi dari para Dewa. Karena melakukan dosa, jiwa menerima hukuman yaitu mendiami penjara berbentuk tubuh fisik. Siklus kelahiran terus berlanjut hingga seluruh dosa ditebus oleh jiwa dengan menjadi tumbuhan, hewan dan manusia. Siklus ini terjadi secara terus-menerus. Harapan yang dimiliki jiwa adalah berhentinya siklus kelahiran ini untuk kembali menjadi jiwa yang murni yang memperoleh kehidupan transenden di antara para Dewa. Pemberhentian siklus inilah yang disebut sebagai transmigrasi jiwa.
d. Abad Pertengahan
FIlsuf muslim pertama yang menulis tentang psikologi pada Abad Pertengahan adalah Al-Kindi. Psikologi merupakan salah satu dari 17 disiplin ilmiah yang dikajinya dalam 270 buku hasil pemikirannya. Al-Kindi membahas mengenai fungsi-fungsi jiwa dan kecerdasan manusia di dalam tulisannya yang berjudul Tentang Tidur dan Mimpi dan Filsafat Pertama. Teori kejiwaannya dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles.
e.
Abad ke-17 hingga abad ke-19
Psikologi pada abad ke-17 dan abad ke-18 masih berstatus sebagau wacana. Statusnya belum dianggap sebagai suatu ilmu. Sumbangsih pemikiran psikologi pada masa ini diberikan oleh para filsuf. Beberapa di antaranya adalah Gottfried Leibniz, Thomas Hobbes, John Locke, Immanuel Kant, dan David Hume.
Pada abad ke-18 dan abad ke-19, psikologi menjadi perdebatan di antara para ilmuwan. Perdebatan ini berkaitan dengan usaha dominasi dari model-model psikologi yang telah ada. Hal yang diperdebatkan adalah pertanyaan mengenai subjek yang layak menjadi bagian dari psikologi, dan prosedur yang dibutuhkan untuk studi yang telah ditetapkan sebagai bagian dari psikologi.
Psikologi pada abad ke-19 memiliki dua teori lama yang sama-sama berkembang. Keduanya yaitu Psikologi Fakultas dan Psikologi Asosiasi. Psikologi Fakultas merupakan teori yang menyatakan bahwa mental bawaan memiliki kekuatan. Kekuatan ini terhimpun dalam kelompok-kelompok yang disebut sebagai fakultas. Kelompok ini meliputi berpikir, merasa dan berkeinginan. Fakultas-fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa sub-fakultas. Sementara Psikologi Asosiasi merupakan teori yang menyatakan bahwa asosiasi atas ide merupakan dasar bagi proses psikologi. Alat indra menjadi tempat masuk bagi ide yang kemudian diasosiasi melalui beberapa prinsip tertentu.
Sejarah psikologi sebagai sebuah disiplin ilmiah ditandai dengan pendirian laboratorium psikologi yang pertama. Laboratorium ini didirikan pada tahun 1879 oleh Wilhelm Wundt di Leipzig, Jerman.Tahun 1879 kemudian ditetapkan sebagai Sebelum adanya laboratorium psikologi, psikologi masih menjadi bagian dari ilmu filsafat dan ilmu fisiologi. Hal ini dikarenakan para ilmuwan di bidang filsafat dan fisiologi memiliki ketertarikan terhadap gejala-gejala kejiwaan. Namun, penyelidikan mereka terhadap psikologi masih dikaitkan dengan bidang utamanya masing-masing. Setelah psikologi menjadi disiplin ilmiah tersendiri, pengaruh dari ilmu filsafat dan ilmu kedokteran masih tetap ada di dalam kajiannya.
Psikologi merupakan satu-satunya disiplin ilmiah selain fisika yang telah berpisah dari ilmu filsafat. Psikologi sebagai disiplin ilmiah memperjelas studinya dengan mengembangkan teori-teori dan metodologi. Psikologi sebagai disiplin ilmiah kemudian memberikan peran bagi ilmu filsafat maupun kedokteran. Peran psikologi dalam ilmu filsafat adalah untuk penyelesaian masalah yang rumit mengenai akal, kehendak dan pengetahuan. Sedangkan dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan dalam menjelaskan isi pikiran dan perasaan dari organ tubuh.
2.
Perkembangan Pemikiran Psikologi
Berdasarkan sudut pandang para ahli, ada beberapa definisi perkembangan :
a. LOSI Hoffman Cs mengungkapkan bahwa perkembangan adalah proses yang
terjadi dalam diri individu sepanjang kehidupan
b. Lerner berpendapat bahwa perkembangan menunjukan perubahan yang
sistematik atau terorganisir dalam diri individu
c. Musen cs mengungkapkan bahwa perkembangan adalah perubahan yang terjadi
pada fisik, struktur neurologis, perilaku, traits (ciri sifat) yang terjadi
secara teratur dan masuk akal, dan menghasilkan yang baru, yang lebih baik,
lebih sehat, lebih terorganisir, lebih stabil, lebih kompleks, lebih
kompetens dan lebih efisien
d. E. Hurlock menjelaskan perkembangan sebagai seri perubahan yang progresif yang terjadi sebagai hasil dari kematangan dan pengalaman dengan tujuan memampukan individu untuk adaptasi dengan lingkungan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada 3 proses
perubahan yang terkait dengan perkembangan, yaitu proses biologis, kognitit,
dan sosioemosional
·
Proses Biologis
Proses perkembangan biologis ditandai dengan perubahan ukuran organ fisik
eksternal tangan, kaki, dan badan) yang makin membesar, memanjang, melebar,
tinggi. Sedangkan perubahan intermal ditandai dengan makin matangnya sistem
saraf dan ja ringan sel-sel yang makin kompleks, sehingga mampu menaik- kan
fungsi hormon, kelenjar maupun keterampilan motoriknya. Aspek-aspek yang
memengaruhi perubahan fisik adalah kesehat an, gizi dan nutrisi. Terjadinya
perubahan fisik sangat mendasar dan prinsipil karena memengaruhi
perkembangan yang lain (kognitif maupun psikososial),
·
Proses Kognitif
Proses perkembangan kognitif adalah proses yang melibat kan perubahan
pemikiran, kecerdasan, dan bahasa dalam diri seseorang. Para ahli púkologi
perlumbangan memperluas dan mempertajam pandangan tersebut dengan
mengungkapkan perkembangan kognitif (Jean Piaget). Optimalisasi perkembang
an kognitif sangat dipengaruhi oleh kematangan fisiologis, ter- utama pada
bayi dan anak. Sehingga perkembangan kognitif makin baik dan
koordinatif.
·
Proses Sosio Emosional
Proses perkembangan sosio emosional adalah proses yang melibatkan perubahan
relasi dengan orang lain, perubahan dalam emosi, dan perubahan dalam
kepribadian. Manusia dike nal sebagai makhluk sosial, la tidak akan mampu
hidup seorang diri. Pergaulan dengan orang lain akan mampu mengubah
persepsi, pandangan, sikap, dan perilaku seseorang sebab dalam pergaulan
terjadi interaksi antarindividu yang ditandai dengan pertukaran (transfer)
informasi tentang pengetahuan, adat-istiadat, kebiasaan, budaya dan dapat
menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan sosialnya. Sebaliknya ketidakmampuan
menyesuaikan diri akan membuat seseorang mengalami kehidupan yang terasing,
rendah diri, pesimis, apatis, merasa cemas atau takut. Akibatnya akan
memengaruhi krisis kepribadian (personality crisis)
3.
Tokoh-Tokoh Penting dan Kontribusinya
a.
Heraclitus
Heraclitus lahir pada 535 SM dan meninggal pada 475 SM. Ia berasal dari
Ephesus di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Turki. Dia adalah seorang
tokoh penting dalam tradisi pemikiran klasik dan mengembangkan konsep-konsep
dalam bidang logika.
Dia memperjelas bahwa segala hal dalam keadaan perubahan dan menjadi, serta
tidak ada keadaan yang tetap. Frase paling terkenal yang diucapkan oleh
Heraclitus adalah "panta rhei kai uden menci," yang artinya semua hal
mengalir seperti aliran sungai, dan tak ada orang yang bisa masuk ke dalam
sungai yang sama dua kali. Ini menggambarkan bahwa semua hal dalam kehidupan
berubah dan tidak ada yang akan tetap dalam keadaan yang sama
b.
Parmenides
Parmanides, yang hidup pada 540-475 SM, berasal dari Kota Elea di wilayah
Italia Selatan. Ia dikenal sebagai tokoh pertama dalam sejarah filsafat yang
mengembangkan bidang logika. Ia bahkan dianggap sebagai tokoh filsafat
modern pertama. Salah satu pandangan utama Parmanides adalah bahwa realitas
terdiri dari kesatuan, di mana benda-benda tidak mengalami
pergerakan atau perubahan.
c.
Democritus
Democritus dengan tekad menyatakan bahwa materi terdiri dari unit-unit yang
tak terbagi yang disebut atom, yang berinteraksi secara mekanis. Dia juga
meyakini adanya atom dengan berbagai ukuran dan bentuk.
Sebagai contoh, ia berargumen bahwa atom udara berbeda dari atom besi, dan
perbedaan inilah yang menentukan cara interaksi mereka. Di samping itu,
Democritus juga menghargai akal sebagai sumber pengetahuan yang sah, serta
mengingatkan akan keterbatasan kebenaran yang diperoleh melalui indera. Ia
memberikan banyak kontribusi di bidang estetika, matematika, biologi,
antropologi, dan ilmu-ilmu lainnya
d.
Thales
Thales, yang tertarik pada filsafat alam, dianggap oleh Aristoteles sebagai
filsuf pertama dalam tradisi Yunani, serta kontributor terpenting bagi kanon
barat. Thales mengembangkan sistem di mana air dianggap sebagai sumber dari
semua materi.
Selain itu, ia terkenal meramalkan gerhana matahari pada tahun 585 SM dan
membawa konsep geometri dari Mesir ke Yunani, serta melakukan temuan-temuan
lainnya. Thales menghitung ketinggian piramida Mesir dan jarak kapal dari
pantai dengan menggunakan geometri. Dia juga dikenal dengan
pengembangan 'Teorema Thales
e.
Pythagoras
Pythagporas merupakan seorang filsuf Yunani yang ahli dalam bidang
matematika dan dihormati sebagai pencetus konsep bilangan. Salah satu
sumbangan utamanya dalam matematika adalah Teorema Pythagoras, yang bahkan
masih diajarkan dalam pelajaran sekolah hingga sekarang.
Pada masa itu, Pythagoras berpendapat bahwa kuadrat dari panjang sisi
miring dalam segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat dari panjang sisi
lainnya. Dia juga mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dikenal sebagai
Pythagoras Society
f.
Socrates
Socrates dijuluki Bapak Filsafat Barat dan mengajarkan tentang etika dan
moral. Dia mendorong manusia untuk dapat membedakan antara benar dan salah,
baik dan buruk, serta adil dan tidak adil.
Pada akhir hidupnya, Socrates meninggal akibat dihukum mati. Dia dipaksa
minum racun karena dituduh menggoyahkan dasar-dasar etika masyarakat Yunani
Kuno dan tidak mengakui dewa-dewa yang dipuja sejak zaman nenek moyang
g.
Plato
Plato lahir di Athena pada tahun 427 SM. Salah satu karya filosofisnya
adalah "Republic," yang membahas tentang peran perempuan yang seharusnya
ditingkatkan. Selain itu, Plato mendirikan sebuah institusi pendidikan yang
dikenal sebagai Akademi di hutan kecil Akademe.
Dia juga membangun pandangan tentang konsep Tuhan. Menurutnya, Tuhan adalah
jiwa alam semesta yang menjadi sumber dari semua gerakan di dunia. Plato
mendalami ilmu filsafat dari para guru terkenalnya seperti Socrates,
Pythagoras, dan Heraclitus.
Selain konsep tentang Tuhan, Plato juga menyatakan bahwa ada tiga tingkatan
hakikat manusia: dorongan, persepsi, keinginan, intelegensi, dan akal. Dia
mengabdikan 40 tahun hidupnya untuk mengajarkan filsafat sebelum wafat pada
usia 81 tahun pada tahun 347 SM
h.
Aristoteles
Aristoteles adalah murid Plato dan juga menjadi guru bagi Aleksander Agung
dari Makedonia. Filsuf Yunani kuno ini memiliki pengetahuan luas dalam
biologi dan ilmu pemerintahan.
Salah satu karyanya yang terkenal adalah klasifikasi flora dan fauna. Dia
juga berperan penting dalam bidang pemerintahan dengan mengusulkan bahwa
pemerintahan yang baik adalah yang memprioritaskan kesejahteraan
rakyatnya
i.
Anaximander
Anaximander, yang merupakan murid Thales, terkenal sebagai salah satu
filsuf pertama yang menghasilkan karya tulis. Seperti Thales, ia juga
memiliki minat luas di berbagai bidang. Dia dihubungkan dengan penemuan
gnomon. Anaximander juga diakui sebagai orang pertama yang menghasilkan peta
dunia.
Ia memiliki pandangan berbeda dari gurunya tentang substansi dasar alam
semesta. Di mana Thales berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari air,
Anaximander menghubungkan semuanya dengan Apeiron (diterjemahkan secara
harfiah sebagai "yang tidak terbatas"
j.
Anaximenes
Anaximenes merupakan filsuf ketiga dari Miletus sebelum Socrates. Ia juga merupakan murid Anaximander dan juga seorang monist. Di mana Thales melihat air dan Anaximander melihat Apeiron, Anaximenes menghubungkan semuanya dengan udara, yang menurutnya merupakan "arche" (awal) dari semua hal.
k. Xenophanes
Xenophanes juga merupakan salah satu orang pertama yang membahas tentang batas pengetahuan manusia. Dia berbicara tentang ketidakmungkinan memahami kebenaran tentang dewa-dewa dan menegaskan bahwa pengetahuan itu bersifat relatif.
Xenophanes, seorang penyair dan teolog, secara tegas menentang pandangan politeisme. Xenophanes mengkritik pandangan teologis Homer dan Hesiod yang menggambarkan tindakan tidak bermoral dewa-dewa yang melakukan pencurian, perzinahan, dan lainnya. Dia meyakini bahwa dewa-dewa tidak sama seperti manusia dan hanya ada satu dewa non-antropomorfik.
l. Empedocles
Selain mengkritik pengorbanan hewan dan menganjurkan
vegetarianisme, juga memperkenalkan teori reinkarnasi (metempsikosis). Ia
juga mengajarkan bahwa ada empat elemen dasar-api, udara, air, dan tanah.
Semua yang ada merupakan perubahan dari empat elemen ini. Dua kekuatan,
Pertikaian dan Cinta, bertanggung jawab atas komposisi yang berbeda dari
setiap elemen ini dalam berbagai hal. Pertikaian membuat elemen-elemen
cenderung berpisah, sementara Cinta membuatnya bersatu
m. Leucippus
Filsuf pertama dari sejumlah filsuf atomis
Yunani, berpendapat bahwa segala sesuatu terdiri dari partikel kecil yang
tak terbagi yang disebut atom, yang diterjemahkan secara harfiah sebagai
"yang tak dapat dipecahkan". Karya-karya dan pemikiran para filsuf Yunani
ini telah membentuk dasar pemikiran filosofis dalam sejarah dan memberikan
sumbangan besar terhadap pemahaman manusia tentang dunia dan eksistensi.
n.
Anaxagoras hanya menulis satu buku dan terutama dipengaruhi oleh
teori Parmenides. Menurutnya, pada awalnya, semua hal ada dalam
fragmen-fragmen kecil yang tak terbatas dalam jumlahnya dan sangat dekat
satu sama lain sehingga hampir tidak bisa dibedakan. Penataan ulang fragmen
ini diatur oleh pikiran kosmis yang disebut "Nous"
B.
PSIKOLOGI DAN ETIKA DALAM PEMIKIRAN YUNANI KUNO : STOIKISME
Filsafat Yunani Kuno telah memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan
pemikiran manusia dalam berbagai bidang, termasuk psikologi dan etika.
Stoikisme, yang muncul pada abad ke-3 SM, menawarkan pandangan yang unik
tentang bagaimana manusia harus hidup dan merespons tantangan hidup.
Prinsip-prinsip Stoik yang berfokus pada kebajikan, pengendalian diri, dan
rasionalitas tidak hanya relevan dalam konteks masa lalu, tetapi juga
memiliki aplikasi penting dalam psikologi modern dan
pengembangan karakter.
1.
Prinsip-Prinsip Stoikisme
Stoikisme berkembang di Yunani Kuno sebagai aliran filsafat yang menekankan
pentingnya hidup sesuai dengan alam dan mematuhi prinsip-prinsip moral yang
rasional. Tokoh-tokoh utama Stoikisme, seperti Zeno dari Citium, Seneca,
Epictetus, dan Marcus Aurelius, menekankan bahwa kebahagiaan sejati atau
eudaimonia dapat dicapai melalui pengendalian diri dan rasionalitas
(Long, 2002). Tokoh-tokoh utama Stoikisme, seperti Zeno dari Citium, Seneca,
Epictetus, dan Marcus Aurelius, menekankan bahwa kebahagiaan sejati atau
eudaimonia dapat dicapai melalui pengendalian diri dan rasionalitas
(Irvine, 2008).
Para Stoik percaya bahwa emosi negatif seperti marah, takut, dan kecemasan
dapat diatasi melalui logika dan kebijaksanaan. Mereka melihat kebajikan
sebagai satu-satunya kebaikan sejati, dan semua hal lain (kekayaan,
kesehatan, status) dianggap indiferen atau tidak penting dalam pencapaian
kebahagiaan sejati.
2.
Aplikasi Prinsip Stoik dalam Psikologi Positif
Prinsip-prinsip Stoikisme telah diadaptasi ke dalam psikologi positif,
terutama dalam konteks penerimaan, pengendalian emosi, dan pembangunan
kebajikan (Robertson, 2019). Pendekatan Stoik dalam menghadapi kesulitan
hidup serupa dengan terapi kognitif-behavioral (Cognitive Behavioral Therapy, CBT), yang mengajarkan individu untuk mengenali dan mengubah pola pikir yang
merugikan (Robertson, 2019). CBT, seperti halnya Stoikisme, berfokus pada
kemampuan individu untuk mengendalikan reaksi emosional terhadap situasi
eksternal. Selain itu, Stoikisme juga menginspirasi praktik mindfulness dan
penerimaan dalam psikoterapi modern, yang membantu individu untuk menerima
kenyataan sebagaimana adanya tanpa reaksi emosional yang berlebihan
(Seligman, 2011).
3.
Perkembangan Karakter di Era Modern
Pengembangan karakter berdasarkan prinsip Stoik masih sangat relevan di era
modern, terutama dalam menghadapi tantangan emosional dan etika di dunia
yang semakin kompleks (Pigliucci, 2017). Nilai-nilai Stoik seperti
integritas, ketabahan, dan kebijaksanaan dapat diaplikasikan dalam berbagai
aspek kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, dan kepemimpinan (Ryan &
Becker, 2018). Prinsip-prinsip Stoikisme, seperti ketenangan, kendali diri,
dan rasionalitas, memberikan kerangka kerja yang kokoh untuk mempertahankan
keseimbangan mental dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia modern
yang penuh dengan tekanan, ajaran Stoikisme dapat menjadi panduan untuk
mengembangkan karakter yang kuat dan berdaya tahan.
C.
DAMPAK MITOLOGI YUNANI TERHADAP PEMAHAMAN PSIKOLOGI MANUSIA
Mitologi Yunani adalah salah satu warisan budaya yang kaya akan kisah-kisah
yang memiliki simbolis mendalam. Kisah-kisah ini sering kali digunakan untuk
menjelaskann fenomena alam, nilai-nilai moral, aspek-aspek psikologis
manusia. Di antara berbagai mitos yang ada, mitos Narcissus dan Icarus
menonjol sebagai dua cerita yang sering dikaitjan dengan perilaku menusia
yang patologis. Narcissus melambangkan nasrisme atau cinta diri yang
berlebihan, sementara Icarus melambangkan kesombongan dan perilaku implusif
yang berisiko. Analisis terhadap kedua mitos ini dapat memberukan gambaran
secara mendalam tentang aspek-aspek psikologis, serta bagaiaman mitos ini
relevan dalam konteks psikologis modern.
1.
Analisis Mitos Narcissus dan Icarus
a.
Mitos Narcissus
Narcissus, dalam mitologi Yunani, adalah seorang pemuda yang terkenal
karena ketampanannya. Kisahnya yang tragis bermula ketika ia melihat
bayangannya sendiri di permukaan air dan jatuh cinta pada refleksi tersebut.
Terobsesi dengan bayangannya sendiri, Narcissus tidak dapat melepaskan diri
dari refleksi tersebut hingga akhirnya ia meninggal dunia. Mitos ini menjadi
simbol klasik dari narsisme, sebuah kondisi psikologis di mana seseorang
memiliki cinta diri yang berlebihan.
Sigmund Freud, salah satu tokoh utama dalam bidang psikoanalisis,
memperkenalkan konsep narsisme dalam esainya yang berjudul On Narcissism: An
Introduction (1914). Freud menjelaskan bahwa narsisme adalah tahap
perkembangan normal pada anak-anak, di mana seluruh libido difokuskan pada
diri sendiri. Namun, ketika narsisme ini bertahan hingga dewasa, ia dapat
berkembang menjadi gangguan kepribadian narsistik, yang ditandai dengan
kebutuhan akan pengakuan dan kekaguman, serta kurangnya empati terhadap
orang lain (Freud, 1914).
b.
Mitos Icarus
Icarus adalah putra Daedalus, seorang ahli arsitek yang membangun Labirin
untuk Raja Minos di Kreta. Dalam upaya melarikan diri dari Labirin, Daedalus
menciptakan sayap dari bulu dan lilin untuk dirinya dan Icarus. Sebelum
terbang, Daedalus memperingatkan Icarus untuk tidak terbang terlalu tinggi,
karena panas matahari akan melelehkan lilin di sayapnya. Namun, dalam
euforia terbang, Icarus mengabaikan peringatan tersebut, terbang terlalu
dekat dengan matahari, dan akhirnya jatuh ke laut dan tenggelam.
Mitos Icarus sering diinterpretasikan sebagai simbol dari hubris
(kesombongan) dan kurangnya kontrol diri. Dalam psikologi, perilaku Icarus
dapat dikaitkan dengan kecenderungan manusia untuk mengambil risiko yang
tidak perlu, sering kali karena rasa euforia atau ilusi kebesaran. Perilaku
ini mencerminkan overconfidence bias, di mana seseorang melebih-lebihkan
kemampuannya sendiri dan mengabaikan risiko yang ada (Ellis & Harper,
1975).
2.
Simbolisme dan Aspek Psikologis Perilaku Manusia
a.
Simbolisme Narcissus
Narcissus melambangkan bahaya dari cinta diri yang berlebihan dan kurangnya
kesadaran diri. Dalam psikologi modern, Narcissus menjadi lambang dari
narsisme, sebuah kondisi di mana seseorang sangat terfokus pada dirinya
sendiri sehingga kehilangan kemampuan untuk merasakan empati dan berhubungan
dengan orang lain. Otto Kernberg, seorang psikoanalis, menyebutkan bahwa
narsisme patologis sering kali muncul dari pengalaman masa kecil yang penuh
dengan kekosongan emosional atau pengabaian, yang kemudian mempengaruhi
kemampuan individu untuk membentuk hubungan interpersonal yang sehat
(Kernberg, 1975).
b.
Simbolisme Icarus
Icarus melambangkan hubris, atau kesombongan, yang sering kali mengarah
pada kehancuran. Psikologis, Icarus mewakili individu yang terjebak dalam
euforia atau impulsif yang tidak terkendali, mengabaikan risiko yang ada dan
bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Kecenderungan untuk
berperilaku impulsif ini dapat dilihat dalam berbagai gangguan psikologis,
termasuk gangguan kepribadian borderline dan perilaku adiktif, di mana
individu mungkin terlibat dalam tindakan yang merugikan diri sendiri atau
orang lain tanpa mempertimbangkan akibatnya (Nolen-Hoeksema et al.,
2009).
3.
Relevensi Mitos dalam Masalah Psikologis Kontemporer
a.
Mitos Narcissus dalam Konteks Kontemporer
Dalam era digital saat ini, narsisme telah menemukan ekspresi baru dalam
bentuk media sosial. Platform seperti Instagram dan Facebook memungkinkan
individu untuk menciptakan citra diri yang ideal, sering kali dengan
mengorbankan hubungan interpersonal yang nyata. Narcissus modern mungkin
terlihat dalam fenomena seperti selfie, di mana seseorang menjadi sangat
terfokus pada citra dirinya sendiri dan mencari validasi dari orang lain
melalui "likes" dan komentar. Hal ini mencerminkan gejala narsisme yang
meluas, di mana individu menjadi terobsesi dengan bagaimana mereka
dipersepsikan oleh orang lain, dan sering kali merasa tidak puas jika tidak
mendapatkan perhatian yang cukup (Kernberg, 1975).
b.
Mitos Icarus dalam Konteks Kontemporer
Mitos Icarus relevan dalam diskusi tentang workaholism dan perfectionism, di mana individu berusaha mencapai kesuksesan dengan cara yang tidak sehat, sering kali mengabaikan keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Kecenderungan ini terlihat dalam dunia kerja modern, di mana tuntutan untuk mencapai lebih banyak dan menjadi lebih sukses dapat menyebabkan kelelahan, stres, dan pada akhirnya, kehancuran fisik dan mental. Selain itu, perilaku Icarus juga relevan dalam konteks remaja dan dewasa muda yang terlibat dalam perilaku berisiko tinggi, seperti penyalahgunaan narkoba atau aktivitas yang berbahaya, di mana mereka mungkin mengabaikan konsekuensi potensial dari tindakan mereka karena euforia atau tekanan kelompok (Kets de Vries, 1993).
D. KONSEP KESEHATAN MENTAL DALAM FILSAFAT YUNANI KUNO : KESEIMBANGAN DAN KETIDAKSEIMBANGAN
1.
Pandangan Kesehatan Mental dalam Filosofi Yunani Kuno
Dalam filsafat Yunani Kuno, kesehatan mental sering dikaitkan dengan konsep
keseimbangan, baik dalam hal emosional, moral, maupun fisik. Hippocrates,
yang dikenal sebagai "Bapak Kedokteran," memandang kesehatan mental sebagai
hasil dari keseimbangan antara empat cairan tubuh atau humor:
darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam. Ketidakseimbangan antara
humor-humor ini dianggap menyebabkan gangguan fisik dan mental, seperti
melankolia, yang disebabkan oleh kelebihan empedu hitam (Hankinson, 1991).
Plato mengaitkan kesehatan mental dengan keseimbangan antara tiga bagian jiwa manusia: rasional, emosional, dan keinginan (nafsu). Menurut Plato, kesehatan mental tercapai ketika bagian rasional jiwa mengendalikan emosi dan keinginan, memungkinkan individu untuk hidup dalam harmoni dan moralitas (Annas, 1993). Aristoteles memperkenalkan gagasan tentang eudaimonia—sebuah kondisi kebahagiaan dan kesejahteraan optimal yang tercapai melalui kebajikan dan keseimbangan antara ekstrem-eksrem emosi dan tindakan (Gill, 1996)
2.
Implikasi terhadap Praktik Kesehatan Mental Modern
Konsep keseimbangan dalam kesehatan mental yang dikembangkan oleh filsuf
Yunani Kuno telah memberikan pengaruh besar terhadap praktik kesehatan
mental modern. Teori humoral Hippocrates, meskipun tidak lagi digunakan
secara langsung dalam kedokteran modern, menginspirasi pemahaman awal
tentang kaitan antara kondisi fisik dan mental (Seligman & Csikszentmihalyi, 2000). Saat ini, keseimbangan masih menjadi prinsip penting dalam berbagai
pendekatan psikoterapi, seperti terapi kognitif-behavioral (CBT), yang
berfokus pada keseimbangan antara pikiran, emosi, dan perilaku (Gross, 2020).
Pandangan Plato tentang keseimbangan antara bagian rasional dan emosional
jiwa juga tercermin dalam pendekatan psikodinamik dan psikologi humanistik,
yang menekankan pada pengintegrasian berbagai aspek diri untuk mencapai
kesehatan mental yang optimal (Gerber & Peterson, 2006). Selain
itu, konsep eudaimonia yang diperkenalkan Aristoteles telah
mempengaruhi pengembangan psikologi positif, yang menekankan pengembangan
kebajikan dan pencapaian kehidupan yang bermakna (Seligman & Csikszentmihalyi, 2000).
3.
Pentingnya Keseimbangan Emosional
Keseimbangan emosional adalah elemen kunci dalam kesehatan mental yang
telah diakui sejak zaman Yunani Kuno. Filsuf seperti Aristoteles menekankan
bahwa kebajikan adalah hasil dari keseimbangan atau jalan tengah
(mesotes) antara dua ekstrem, seperti keberanian yang terletak di
antara ketakutan dan kebod
ohan (Aristotle, 2004). Keseimbangan
emosional merujuk pada kemampuan untuk mengelola emosi negatif sambil
mempertahankan perspektif yang rasional dan positif terhadap kehidupan.
Dalam konteks modern, keseimbangan emosional dianggap esensial untuk kesejahteraan psikologis. Pendekatan-pendekatan seperti mindfulness dan terapi berbasis penerimaan dan komitmen (ACT) menekankan pengembangan kesadaran dan penerimaan emosi sebagai bagian dari usaha untuk mencapai keseimbangan emosional (Kabat-Zinn, 2003; Hayes, Strosahl, & Wilson, 2011).
E.
PERAN AGAMA DAN SPIRITUALISASI SALAM PEMIKIRAN PSIKOLOGI YUNANI
KUNO
1.
Agama dan Spiritualitas dalam Kehidupan Sehari-hari
a.
Hercliticus : Mengajarkan bahwa perubahan adalah satu-satunya hal yang
konstan, dan bahwa kehidupan spiritual dan dunia material saling berhubungan
pandangan bahwa mereka saling berhubungan. Ia percaya bahwa pemahaman
tentang alam semesta dapat dicapai melalui eksplorasi batin yang
mendalam.
b.
Empedocles: memperkenalkan konsep empat unsur (tanah, air, udara, dan api)
yang berinteraksi dalam segala hal, termasuk jiwa manusia. Ritual dan ritual
keagamaan dinilai penting untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur tersebut
dalam kehidupan sehari-hari.
c.
Pythagoras : Ajaran yang memadukan matematika, musik, dan spiritualitas.
Beliau mengajarkan reinkarnasi dan makna hidup sesuai prinsip moral dan
etika yang menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan kehidupan
spiritual.
d.
Plato: Melalui teorinya tentang bentuk, Plato menekankan bahwa dunia
material hanyalah bayangan dari dunia gagasan yang lebih tinggi. Ia
menggabungkan pemahaman spiritual dengan pencarian kebenaran dan
kebijaksanaan, yang sangat mempengaruhi pendidikan moral masyarakat.
e.
Thales: Dikenal sebagai filsuf pertama yang berusaha menjelaskan fenomena
alam tanpa mengandalkan mitologi. Ia melihat segala sesuatu muncul dari satu
zat, air, dan oleh karena itu ia berpendapat bahwa ada kekuatan spiritual
yang menyatukan semua aspek kehidupan.
f.
Aristoteles : Menekankan pentingnya kebajikan dalam mencapai eudaimonia
(kebahagiaan). Ia melihat agama sebagai cara untuk mencapai kebajikan dan
mengembangkan karakter moral dalam konteks sosial.
g.
Parmenides: menyatakan bahwa hanya ada satu realitas yang tidak berubah
yang menantang pandangan umum tentang perubahan. Hal ini memunculkan gagasan
bahwa pemahaman spiritual tentang keberadaan lebih penting daripada
pengalaman indrawi sehari-hari.
h.
Hippocrates: Hippocrates, paling dikenal sebagai bapak kedokteran, mengakui
peran spiritual dalam kesehatan mental dan fisik dan menekankan keseimbangan
antara tubuh dan pikiran.
i.
Socrates: Menggunakan teknik dialog untuk mengeksplorasi pemahaman moral
dan etika. Ia percaya bahwa kesadaran diri adalah kunci kehidupan yang baik
dan mencerminkan aspirasi spiritualnya dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Pengaruh terhadap Pemikiran Psikologis
1. Heraclitus dan Perubahan: Pandangan bahwa segala sesuatu yang berubah
didasarkan pada gagasan psikologis bahwa individu harus beradaptasi dengan
lingkungannya untuk mencapai kesejahteraan psikologis membawa pemahaman.
2. Empedocles dan Keseimbangan: Konsep keseimbangan unsur menjadi
dasar pemahaman kesehatan mental sebagai hasil keselarasan berbagai aspek
kehidupan.
3. Pythagoras dan Moralitas: Ajaran Pythagoras tentang reinkarnasi
dan moralitas menetapkan pandangan bahwa tindakan kita memiliki konsekuensi
spiritual yang mempengaruhi jiwa kita.
4. Plato dan Dunia Ide: Refleksi Dunia Ide mempromosikan pendekatan
introspektif terhadap psikologi di mana individu didorong untuk
mengeksplorasi kebenaran batin mereka sendiri.
5. Thales dan Substansi Tunggal: Konsep kesatuan dalam keberagaman
mempengaruhi cara berpikir kita tentang identitas dan hubungan antar
individu dalam konteks sosial.
6. Aristoteles dan Kebajikan: Menekankan pentingnya pengembangan
karakter sebagai landasan kesehatan mental dan menyatukan etika dan
psikologi.
7. Parmenides dan Realitas: Pandangannya tentang realitas yang tidak
berubah merangsang refleksi stabilitas mental dan pencarian makna
hidup.
8. Hippocrates dan Kesehatan Mental: Pendekatan holistik Hippocrates membuka jalan untuk mengenali pentingnya faktor psikologis dalam kesehatan fisik.
3.
Implikasi untuk Psikologi Kontemporer
a. Mengintegrasikan Spiritualitas: Pengakuan akan pentingnya spiritualitas
dalam terapi modern, seperti terapi berbasis kesadaran, mengakui nilai
spiritualitas dalam proses penyembuhan.
b. Pendekatan Holistik: Gagasan Aristoteles dan Hippocrates tentang
keseimbangan pikiran-tubuh diintegrasikan ke dalam praktik kesehatan mental
modern, menekankan hubungan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
c. Etika dalam Psikologi: Nilai-nilai moral yang diajarkan oleh Socrates
dan Pythagoras memberikan dasar bagi psikolog untuk mempertimbangkan
implikasi etis dari intervensi mereka terhadap klien.
d. Pencarian Makna: Konsep Plato tentang pencarian kebenaran
mendorong pendekatan psikologis yang berfokus pada membantu individu
menemukan makna dalam hidup.
e. Beradaptasi terhadap Perubahan: Gagasan Heraclitus tentang perubahan relevan dalam konteks psikologi modern, di mana kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dianggap penting untuk kesehatan mental.
DAFTAR PUSTAKA
Annas, J. (1993). The Morality of Happiness. Oxford University Press.
Aristotle. (2004). Nicomachean Ethics (J. A. K. Thomson, Trans.). Penguin
Classics.
Ellis, A., & Harper, R. A. (1975). A Guide to Rational Living. Wilshire
Book Co.
Freud, S. (1914). On Narcissism: An Introduction. The Standard Edition of
the Complete Psychological Works
of Sigmund Freud, Vol. 14. London: Hogarth Press.
Gerber, A. J., & Peterson, B. S. (2006). Psychodynamic and
Cognitive-Behavioral Therapy of
Depression:
Comparisons and Contrasts. American Journal of Psychiatry, 163(1),
16-20.
Gill, C. (1996). Personality in Greek Epic, Tragedy, and Philosophy: The
Self in Dialogue. Oxford
University Press.
Gross, R. D. (2020). Psychology: The Science of Mind and Behaviour. Hodder
Education.
Hankinson, R. J. (1991). The Cambridge Companion to Hippocrates. Cambridge
University Press.
Harsanti, I., dkk. (2013). Psikologi Umum 1 (PDF). Universita
Gunadarma.
Hayes, S. C., Strosahl, K. D., & Wilson, K. G. (2011). Acceptance and
Commitment Therapy: The Process and Practice of Mindful Change. Guilford
Press.
Irvine, W. B. (2008). A Guide to the Good Life: The Ancient Art of Stoic
Joy. Oxford University Press.
Irawan, E. K. (2015). Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Psikologi dari
Klasik sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD.
Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-Based Interventions in Context: Past,
Present, and Future. Clinical Psychology:
Science and Practice, 10(2), 144-156.
Kernberg, O. F. (1975). Borderline Conditions and Pathological Narcissism.
New York: Jason
Aronson.
Kets de Vries, M. F. R. (1993). Leaders, Fools and Impostors: Essays on the
Psychology of Leadership. iUniverse.
Long, A. A. (2002). Epictetus: A Stoic and Socratic Guide to Life. Oxford
University Press.
Nolen-Hoeksema, S., Fredrickson, B. L., Loftus, G. R., & Wagenaar, W.
A. (2009). Atkinson & Hilgard's Introduction to
Psychology. Cengage Learning.
Pigliucci, M. (2017). How to Be a Stoic: Using Ancient Philosophy to Live a
Modern Life. Basic Books.
Rahman, Ulfiani (2014). Hidayat, Yusuf, ed. Memahami Psikologi dalam
Pendidikan: Teori dan Aplikasi (PDF). Makassar: Alauddin University
Press.
Robertson, D. (2019). How to Think Like a Roman Emperor: The Stoic
Philosophy of Marcus
Aurelius.
St. Martin's Press.
Ryan, H., & Becker, L. C. (2018). Stoic Virtues: Chrysippus and the
Religious Character of
Stoicism.
Bloomsbury Academic.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: A Visionary New Understanding of
Happiness and Well-
being. Free Press.
Seligman, M. E. P., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive Psychology:
An Introduction.
American
Psychologist, 55(1), 5-14.
Supriyanto, Didik (2017). "Sejarah Singkat Psikologi Pendidikan". Modeling:
Jurnal Program Studi PGMI. 4(2): 230.
Sumanto (2014). Psikologi Perkembangan: Fungsi dan Teori. Yogyakarta: CAPS
(Center Of Academic
Publishing Service).
Warsah, I., & Daheri, M. (2021). Masduki, Yusron, ed. Psikologi: Suatu
Pengantar (Edisi Revisi)
(PDF). Bantul: Tunas
Gemilang.
Komentar
Posting Komentar