Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno

Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno 1.      Definsi Psikologi dalam Konteks Yunani Kuno Sejarah psikologi terbagi dalam rentang waktu yang lama. Periode paling awal dari sejarah psikologi adalah pada zaman Yunani Kuno sebelum adanya penanggalan Masehi. Pada masa ini, psikologi masih menjadi bagian dari ilmu filsafat. Memasuki abad ke-5 hingga ke 6 Masehi, psikologi telah dihubungkan dengan dua teologi besar dari bangsa Yunani, yaitu Olympian dan Orfisme. Pada Abad Pertengahan, filsuf muslim seperti Al-Kindi mulai mengkaji tentang psikologi di dalam karya-karya tulisnya. Sejarah psikologi kemudian berlanjut pada abad ke-17 hingga abad ke-18 dengan status psikologi masih sebagai wacana yang kemudian mulai diperdebatkan. Perdebatan ini mengenai objek dan prosedur kajian yang layak dimasukkan sebagai bagian dari psikologi. Sejarah psikologi sebagai disiplin ilmiah yang terpisah dari filsafat dimulai pada akhir a...

PSIKOLOGI TRANSPERSONAL

A.    A. Latar Belakang Psikologi Transpersonal

Munculnya psikologi transpersonal dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor sosial, budaya, politik di Amerika Serikat; maraknya penggunaan obat psychodelic yang dapat mengubah persepsi, kognisi dan kesadaran seseorang; dan ketidakpuasan terhadap aliran-aliran pemikiran sebelumnya.

1.     Faktor Sosial, Budaya, dan Politik

Abraham Maslow telah memprediksi kemunculan aliran baru dalam psikologi. Prediksi tersebut tidak lepas dari perubahan sosial, budaya dan politik yang terjadi di Amerika Serikat. Munculnya gerakan kontrak-budaya terhadap ketidakpuasan kondisi dan budaya yang dijalani selama ini. Hal ini mencangkup, keinginan perempuan untuk mendapatkan persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan, protes kaum minioritas untuk diperlakukan secara adil, munculnya kesadaran masyarakat Amerika untuk bertindak diluar dari kebiasaan budanyanya, dan munculnya ketertarikan masyarakat Amerika pada aspek spiritualitas.

2.     Faktor Penggunaan Psychodelic Drugs

Pengguaan Psychodelic Drugs atau dikenal juga dengan nama Era Psychodelic Drugs yang terjadi pada awal tahun 1960 sampai pertengahan 1970-an guna Mendapatkan pengalaman psychedelic. Penggunaan psychodelic drugs juga dimanfaatkan untuk kepentingan terapi. Stan Gorf sebagai pionir dalam mengguakan LCD untuk pengobatan ketergantungan pada obat terlarang, berpendapat bahwa LCD dapat memperkaya pengalaman transpersonal yang disampaikan pasien yang belum pernah pasien alami dalam kehidupan nyata.

3.     Ketidakpuasan terhadap Aliran Pemikiran Sebelumnya

Aliran psikologi behaviorisme, psikoanalisis dan humanistik tidak tertarik dengan aspek spiritual manusia, yang menjadi pokok inti psikologi transpersonal. Aliran behaviorisme, tidak tertarik pada pembahasan pengalaman spiritual dan perilaku beragama. Psikoanalisa Freud, telah membahas spiritualitas, akan tetapi menurutnya pengalaman tersebut hanyalah ekspresi dari konflik ketidaksadaran dan salah satu bentuk gangguan mental. Rogers, salah satu tokoh penting humanistik berpendapat bahwa agama tidak baik pada kesehatan mental seseorang. Rogers tidak menyukai agama secara formal terkhusus agama yang konservatif, fundamentalis, sewenang-wenang, dan menindas. Rogers terbuka dengan pengalaman spiritual yang dialami kliennya dan menganggap bahwa pengalaman tersebut merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri.

Abraham Maslow, sebagai tokoh utama psikologi humanistik, ternyata juga merasa kurang puas dengan pendekatan ini. Perhatian utamanya bukan pada eksistensi, melainkan pada esensi. Ia banyak mengeksplorasi nilai-nilai, makna puncak, aspek spiritual, dan konsep aktualisasi diri. Melalui penelitiannya, Maslow menyimpulkan bahwa individu yang telah mencapai aktualisasi diri memiliki dorongan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai transenden yang bersifat universal. Selain determinasi diri dan kebebasan berkehendak, manusia juga memiliki kebutuhan akan moralitas dan transendensi diri.

Temuan ini membuat Maslow mempertimbangkan fokusnya, apakah tetap pada kebutuhan manusia atau beralih ke dimensi yang lebih luas, yaitu cosmos atau trans-human. Akhirnya, bersama tokoh lain, ia mendirikan psikologi transpersonal yang lebih berpusat pada dimensi spiritualitas manusia. Dalam pandangannya, psikologi humanistik dianggap sebagai tahap transisi menuju psikologi yang lebih tinggi, yakni psikologi transpersonal, yang melampaui kepentingan manusia dan berfokus pada dimensi kosmos. Hal ini menegaskan peran Maslow dalam menjembatani psikologi humanistik dan transpersonal.

 

B.    B. Tokoh-tokoh Sebelum Munculnya Psikologi Transpersonal

Gagasan psikologi transpersonal telah muncul jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas. Beberapa tokoh seperti Richard Maurice Bucke, William James, Carl Gustav Jung, dan Roberto Assagioli sudah menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan aspek transpersonal. William James disebut sebagai orang pertama yang menggunakan istilah "transpersonal" pada 1905 dan mendukung penelitian fenomena keagamaan dengan pendekatan ilmiah. Carl Gustav Jung juga menekankan pentingnya spiritualitas dalam psikologi, berbeda dengan pandangan Freud yang melihat pengalaman spiritual sebagai gangguan mental. Jung memandang individuasi sebagai proses psikospiritual untuk mencapai integrasi dan kemanusiaan yang utuh.

 

1.     Richard Maurice Bucke (1837-1902)

Richard Maurice Bucke adalah seorang psikiater asal Kanada yang dikenal melalui karyanya Cosmic Consciousness yang diterbitkan pada tahun 1901. Teori cosmic consciousness Bucke berawal dari pengalaman mistiknya sendiri. Suatu malam setelah membaca puisi karya Whitman, Bucke merasa dikelilingi cahaya dan kebahagiaan mendalam. Pengalaman serupa terulang saat ia bertemu langsung dengan Whitman, yang memunculkan perasaan euforia dan kesejahteraan mental selama enam minggu.

Berdasarkan pengalaman dan penelitiannya, Bucke mengembangkan teori bahwa kesadaran manusia terdiri atas tiga tingkatan:

·       Simple consciousness: Kesadaran dasar yang juga dimiliki hewan, mencakup kesadaran terhadap tubuh dan lingkungan.

·       Self consciousness: Kesadaran manusia pada umumnya, termasuk kesadaran terhadap identitas diri, pikiran, dan perasaan.

·       Cosmic consciousness: Tingkat kesadaran tertinggi, yang hanya dimiliki sebagian individu, mencakup kesadaran akan kehidupan semesta dan tatanannya. Ciri-cirinya meliputi peningkatan moralitas, perasaan kebahagiaan, kesadaran akan kehidupan kekal, dan pengalaman spiritual yang mendalam.

Konsep cosmic consciousness Bucke menggambarkan potensi manusia untuk melampaui kesadaran biasa menuju pemahaman mendalam tentang hubungan antara diri dan semesta.

 

2.     Roberto Assagioli (1888-1974)

Roberto Assagioli, lahir di Venice pada 1888 dan wafat pada 1974. Ia adalah seorang psikiater yang belajar psikoanalisis dari Carl Gustav Jung dan terinspirasi oleh William James. Assagioli menyelesaikan doktoralnya di Universitas Florence pada 1910 dengan disertasi tentang Psikosintesis, yang mengandung kritik terhadap psikoanalisis. Meskipun mengagumi psikoanalisis dan diakui oleh Jung sebagai calon penerus pemikiran Freud di Italia, Assagioli mengembangkan pendekatan baru bernama Psikosintesis pada awal 1910-an.

Psikosintesis menjadi ciri khas pemikirannya, yang ia kembangkan dalam berbagai publikasi, termasuk buku A New Method of Treatment: Psychosynthesis (1926). Sebagai salah satu pelopor psikologi transpersonal, Assagioli merumuskan konsep penting seperti peak experience dan dimensi transpersonal manusia. Ia mengkritik pendekatan Freud yang dianggap terlalu reduksionis, kurang menghargai potensi positif manusia, serta mengabaikan aspek spiritual. Pendekatan Psikosintesis menekankan pemahaman manusia secara holistik, mencakup fisik, emosional, mental, dan spiritual.

 

a)     Psikosintesis

Psikosintesis berasal dari kata Yunani psyche (jiwa) dan synthesis (menggabungkan), yang mencerminkan pendekatan untuk memahami manusia secara holistik dan integratif. Konsep ini mencakup aspek fisik, emosional, mental, dan spiritual, memperluas pembahasan psikologi tradisional dengan memasukkan dimensi spiritual yang sering diabaikan. Psikosintesis tidak hanya menganalisis jiwa, tetapi juga berusaha menyatukan berbagai elemen dalam diri manusia agar berkembang secara menyeluruh, baik secara individu maupun interpersonal.

Selain sebagai model kepribadian, psikosintesis juga menawarkan pendekatan psikoterapi yang berfokus pada dua aspek: mengatasi masalah psikologis seperti trauma dan depresi (personal problems), serta mendorong perkembangan spiritual dan transpersonal (transpersonal problems).

1.     Personal psikosintesis: membantu individu mengintegrasikan pengalaman hidup untuk mencapai fungsi ego yang sehat.

2.     Spiritual/transpersonal psikosintesis: meningkatkan dimensi spiritual manusia, seperti kebutuhan akan makna, pengalaman puncak, dan hubungan dengan Tuhan atau alam semesta.

Dengan pendekatan ini, psikosintesis berupaya menciptakan individu yang berfungsi optimal secara psikologis dan spiritual. Pemikiran Assagioli ini mendahului gagasan psikologi humanistik tentang aktualisasi diri dan psikologi transpersonal tentang dimensi spiritual, menjadikannya salah satu pelopor dalam bidang psikoterapi transpersonal.

 

b)    Model Jiwa Manusia

Assagioli, melalui pendekatan psikosintesis, memperkenalkan model jiwa manusia yang digambarkan dalam diagram berbentuk telur (The Egg Diagram). Model ini mencakup pemahaman berikut:

1.     Batas Personal dan Kolektif
Bentuk oval melambangkan batas personal unconsciousness, sedangkan area di luar oval mewakili collective unconsciousness, mirip dengan konsep Jung.

2.     Tiga Tingkatan Ketidaksadaran
a. Lower unconscious: Serupa dengan konsep Freud tentang id, bagian ini menyimpan pengalaman negatif seperti rasa bersalah dan penghinaan, yang ditekan ke alam bawah sadar tetapi tetap memengaruhi kesadaran.
b. Middle unconscious: Berisi elemen psikologis yang mudah diakses oleh kesadaran dan menjadi dasar kepribadian.
c. Higher unconscious: Menyimpan potensi luhur seperti kebutuhan aktualisasi diri, pengalaman spiritual, dan hubungan dengan Tuhan serta alam semesta. Fokus utama psikosintesis ada pada level ini, berbeda dari psikoanalisis yang lebih menekankan lower unconscious.

3.     Garis Putus-Putus
Garis antara tingkatan kesadaran menunjukkan fleksibilitas, di mana hal yang tidak disadari dapat menjadi disadari, dan sebaliknya. Ketidaksadaran juga dapat memengaruhi kesadaran secara signifikan.

4.     Aku (I) dan Diri (Self)
Aku adalah pusat kesadaran dan kehendak yang selalu menjadi subjek pengalaman, sedangkan diri adalah aspek yang lebih tinggi, mencakup kesadaran atas masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta pengalaman spiritual dan kreatif.

Melalui model ini, Assagioli menekankan integrasi seluruh aspek jiwa manusia untuk mencapai perkembangan holistik, baik secara individu maupun transpersonal.

 

C.    C. Tokoh-tokoh Psikologi Transpersonal

Psikologi transpersonal memiliki beberapa tokoh penting, di antaranya Ken Wilber, Stanislav Grof, dan Robert Frager.

 

1.     Ken Wilber (1949–sekarang)

Ken Wilber, lahir pada 31 Januari 1949 di Oklahoma City, berasal dari keluarga pilot yang sering berpindah tempat. Walaupun sering berpisah dengan ayahnya, Wilber memiliki hubungan dekat dengan ibunya dan menjalani masa kecil yang bahagia. Ia dikenal sebagai siswa yang cerdas dan awalnya bercita-cita menjadi dokter. Namun, ia merasa bidang kedokteran tidak sesuai dengan minatnya, sehingga beralih ke studi kimia, biologi, biofisika, dan biokimia di University of Nebraska, Lincoln.

Pada 1960-an, era psychedelic, Wilber mulai tertarik pada perubahan kesadaran melalui metode seperti seni, spiritualitas, dan meditasi. Ia terinspirasi oleh karya Tao Te Ching dan beralih mendalami spiritualitas Timur, filsafat, agama, dan metafisika. Selain itu, Wilber secara intens mempraktikkan meditasi Zen untuk menjawab keresahan intelektual dan eksistensialnya.

Pada 1973, ia menerbitkan buku pertamanya, The Spectrum of Consciousness, yang menggambarkan kesadaran manusia sebagai spektrum dengan berbagai dimensi. Wilber mengkritik pendekatan psikologi konvensional yang dianggap tidak mampu menjelaskan spektrum kesadaran tersebut. Ia kemudian memperkenalkan integral psychology, sebuah kerangka yang mengintegrasikan berbagai pendekatan psikologi dan spiritualitas.

Karya-karyanya yang lain mencakup Sex, Ecology, Spirituality (1995), A Brief History of Everything (1996), dan A Theory of Everything (2000), yang semuanya memperkuat posisinya sebagai salah satu pelopor dalam psikologi transpersonal.

 

Teori Integral

Ken Wilber mengembangkan Teori Integral sebagai respon terhadap beragam teori kesadaran yang sering kali bertentangan satu sama lain. Teori ini bertujuan mengintegrasikan pandangan dari psikologi Barat dan Timur agar saling melengkapi. Wilber ingin menyatukan seni, moral, dan sains, atau yang disebutnya sebagai "I, we, dan it," yang mencerminkan keindahan, kebaikan, dan kebenaran.

Gagasan ini pertama kali muncul dalam bukunya The Spectrum of Consciousness (1977), sedangkan istilah Teori Integral secara eksplisit disebut dalam Sex, Ecology, Spirituality (1995). Kerangka dasar Teori Integral dikenal sebagai All Quadrants All Levels (AQAL). AQAL menjelaskan bahwa pengalaman manusia dapat dipahami dari empat kuadran perspektif:

1.     Individual-Interior (Subjektif/Intensional): Fokus pada persepsi, emosi, dan pengalaman pribadi.

2.     Collective-Interior (Intersubjektif/Budaya): Melihat nilai-nilai, norma, dan budaya dalam masyarakat.

3.     Individual-Exterior (Objektif/Behavioral): Memahami perilaku dan aspek biologis individu.

4.     Collective-Exterior (Interobjektif/Sistem Sosial): Melibatkan struktur sosial dan sistem yang memengaruhi individu.

Setiap kuadran menggambarkan interaksi kompleks antara individu dan kolektif, serta antara interior (pikiran dan nilai) dan eksterior (perilaku dan sistem). Contohnya, kasus perempuan korban KDRT yang tidak melaporkan masalahnya dapat dianalisis melalui keempat perspektif: perilaku diamnya (behavioral), penghayatan emosionalnya (subjektif), norma sosial (kultural), dan ketiadaan sistem pendukung (sosial).

Selain kuadran, konsep lines dan levels of development juga penting. Lines mencerminkan berbagai kecerdasan manusia (misalnya kognitif, moral, emosional, dan spiritual) yang berkembang melalui level atau tahap tertentu, seperti teori perkembangan kognitif Piaget atau moral Kohlberg.

Wilber juga menekankan state of consciousness sebagai aspek penting. Kesadaran seseorang dapat berupa kesadaran alami (natural consciousness), perubahan kesadaran (altered states), atau pengalaman puncak (peak experiences). Wilber menganggap bahwa kesadaran individu dan kolektif saling memengaruhi, sebagaimana dikemukakan oleh Carl Jung.

Teori Integral Wilber menawarkan pendekatan menyeluruh untuk memahami manusia dan realitas, tanpa menempatkan satu perspektif lebih unggul dari yang lain.

 

2.     Stanislav Grof (1931-Sekarang)

Stanislav Grof lahir pada 1 Juli 1931 di Cekoslovakia dan merupakan seorang psikiater yang pernah menjabat sebagai Kepala Penelitian Psikiatri di Maryland Psychiatric Research. Pada 1970-an, ia mendirikan International Transpersonal Association dan menjadi presidennya. Fokus penelitian Grof adalah Non-Ordinary States of Consciousness (NOSC), yang ia teliti sejak 1950-an, terutama mengenai penggunaan LSD dalam terapi.

Grof menemukan bahwa LSD dapat mengakses alam bawah sadar klien dan membantu mengungkap memori yang terkubur, bahkan dari pengalaman prenatal. Pengalaman-pengalaman ini dianggap dapat mempercepat proses terapi, membantu menyembuhkan trauma, dan gangguan seperti skizofrenia. Penelitiannya selama hampir 30 tahun dan lebih dari 2000 sesi membawanya pada kesimpulan bahwa paradigma psikologi dan psikiatri perlu direvisi secara drastis.

Dua kontribusi besar Grof adalah pengembangan Holotropic Breathwork (teknik pernapasan yang dapat mengakses ketidaksadaran, menggantikan LSD) dan pengembangan psikologi prenatal dan perinatal, yang menekankan dampak psikologis pengalaman dalam rahim dan proses kelahiran. Grof memandang manusia sebagai makhluk psychospiritual, dengan kesadaran yang ada sepanjang hidup, termasuk sebelum kelahiran dan setelah kematian, yang dapat dijelajahi melalui pelatihan spiritual seperti meditasi dan trance. 

 

Holotropic Breathwork

Holotropic Breathwork adalah teknik eksplorasi diri dan psikoterapi yang dikembangkan oleh Stanislav Grof bersama istrinya, Christina Grof. Kata "holotropic" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "bergerak menuju keutuhan." Teknik ini memungkinkan individu untuk mengakses ketidaksadaran, baik dari domain perinatal maupun transpersonal. Holotropic Breathwork menggabungkan teknik pernapasan yang intens, musik yang menggugah, dan kerja tubuh, yang terinspirasi dari berbagai praktik ritual dan spiritual budaya dunia.

Pernapasan merupakan elemen utama dalam teknik ini, dengan tujuan untuk mengubah kesadaran. Dalam banyak tradisi spiritual, pernapasan dianggap sebagai cara menghubungkan tubuh, jiwa, dan roh. Grof menyederhanakan teknik pernapasan ini dengan cara bernapas lebih cepat dan dalam dari biasanya, hingga menemukan ritme yang nyaman. Musik juga memainkan peran penting dalam Holotropic Breathwork, digunakan untuk memobilisasi emosi yang terpendam dan membantu klien menghadapi serta melepaskan pengalaman traumatik.

Selama sesi, ketegangan tubuh yang muncul akibat pernapasan intens bisa mengungkapkan masalah fisik atau psikologis yang pernah dialami individu. Intensitas pernapasan ini menyebabkan perubahan kimia dalam tubuh, yang memungkinkan emosi-emosi traumatik yang tertekan untuk disadari dan diselesaikan. Klien diminta untuk menyerahkan diri secara total, mengikuti alunan musik dan pernapasan, serta mengekspresikan diri secara spontan.

3.     Robert Frager (1940-Sekarang)

Robert Frager lahir 20 Juni 1940. Ia adalah pendiri The Institute of Transpersonal Psychology dan penulis beberapa buku penting, termasuk Heart, Self, and Soul yang mengupas tentang psikologi sufi. Frager mengembangkan psikologi sufi dengan pendekatan yang berbeda dari psikologi modern. Psikologi sufi, menurutnya, memandang manusia sebagai perwujudan ruh ilahi yang harus diselaraskan dengan tuntutan batiniah, sedangkan psikologi modern cenderung lebih materialistik dan terbatas pada tubuh serta pikiran.

 

Psikologi Sufi

Psikologi Sufi menurut Robert Frager, yang dipaparkan dalam bukunya Heart, Self, and Soul, menjelaskan perbedaan mendasar antara psikologi sufi dan psikologi modern. Dalam psikologi sufi, alam semesta dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang mencerminkan kehadiran-Nya, sementara psikologi modern melihatnya sebagai materi. Sufi juga menganggap hati spiritual sebagai aspek penting manusia, di mana tujuan hidup adalah menyingkap ruh ilahi dan mengikuti tuntutan batiniah.

Berbeda dengan psikologi modern yang sering melihat manusia dari sudut pandang keterbatasan atau potensi positif, psikologi sufi meyakini manusia memiliki potensi yang lebih besar, bahkan lebih tinggi dari malaikat. Kesadaran manusia dalam psikologi sufi dianggap lebih luas, melampaui kesadaran rasional dan berkembang menuju kesadaran spiritual, yang memungkinkan penyatuan dengan Tuhan.

Keakuan (ego) dalam psikologi sufi dibagi menjadi dua: positif dan negatif. Keakuan negatif, yang terkait dengan egoisme, menghalangi hubungan manusia dengan Tuhan. Psikologi sufi juga menganggap kepribadian sebagai gabungan berbagai sifat yang harus disatukan untuk berkembang, berbeda dengan pandangan psikologi modern yang melihat kepribadian sebagai suatu konstruk utuh.

Psikologi sufi mengakui kecerdasan spiritual yang lebih tinggi untuk memahami kebenaran dan makna hidup, sementara psikologi modern lebih menekankan rasio dan logika. Dalam hal pengetahuan, psikologi sufi memandang bahasa sebagai terbatas dan meyakini bahwa kebenaran dapat melampaui rasionalitas.

Frager juga menjelaskan bahwa hati, yang bukan hanya organ fisik tetapi qalbu (hati spiritual), berfungsi sebagai tempat percikan ilahi dan pengatur psikis manusia, seperti halnya jantung yang mengatur tubuh. Qalbu membantu menjaga keseimbangan psikis dengan kearifan dan cahaya, serta penyucian diri dari sifat-sifat negatif.

 

    D. Psikologi yang Berbasis Agama

Sebelum ilmu psikologi muncul, agama sudah memberikan pemahaman mengenai hakikat dan karakteristik manusia. William James, seorang tokoh psikologi, mengakui hal ini dengan menunjukkan penghormatannya terhadap ajaran agama yang telah lama membahas tentang manusia. James bahkan menyatakan bahwa biksu Anagarika Dharmapala lebih pantas mengajarkan psikologi daripada dirinya, menandakan pengakuan terhadap agama yang sudah lebih dulu berbicara mengenai hal tersebut.

Hal ini kemudian melahirkan berbagai bentuk psikologi yang dibangun berdasarkan agama, seperti Psikologi Islam, Psikologi Kristen, dan Psikologi Buddha. Dalam hal ini, Psikologi Islam menjadi contoh utama psikologi berbasis agama. Psikologi Islam mengacu pada pandangan Islam tentang manusia, yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-sunah, sambil tetap mempertimbangkan prinsip ilmiah. Psikologi Islam memandang manusia tidak hanya dari sisi biologis, psikologis, dan sosial, tetapi juga dari dimensi rohani atau spiritual, yang tidak diperhatikan oleh banyak aliran psikologi lainnya.

Menurut Psikologi Islam, dimensi spiritual adalah sisi jiwa yang memiliki sifat ilahiyah dan mempengaruhi dimensi lainnya dalam diri manusia. Meskipun dimensi spiritual ini tidak bisa diukur dengan cara konvensional, Psikologi Transpersonal menunjukkan bahwa dimensi spiritual manusia bisa dipelajari secara ilmiah, meskipun tidak dengan ukuran materialisme dan rasionalisme semata.

Psikologi Islam dibangun berdasarkan epistemologi Islam, yang menilai pengetahuan tidak hanya berasal dari penelitian ilmiah terhadap ayat kauniyah (alam semesta), tetapi juga dari ayat qauliyah (Al-Qur'an dan As-sunah). Kedua sumber pengetahuan ini saling mengonfirmasi dan tidak akan bertentangan, karena keduanya berasal dari pengetahuan ilahi. Meski begitu, psikologi Islam tetap memperhatikan prinsip ilmiah dalam metode penelitiannya.

 

1.     Latar Belakang Kemunculan Psikologi Islam

Kemunculan psikologi Islam berhubungan erat dengan ide Islamisasi ilmu pengetahuan, yang pertama kali digagas oleh Ismail Razi Al Faruqi pada tahun 1980-an. Al Faruqi, dalam bukunya Islamization of Knowledge: General Principles and Workplan (1982), mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi umat Islam yang terpuruk, yang disebabkan oleh sistem pendidikan yang lebih mengutamakan materi dan metodologi dari luar tradisi Islam, menjauhkan umat dari ajaran Islam. Al Faruqi mengusulkan untuk mengubah sistem pendidikan dengan islamisasi pengetahuan modern.

Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh ilmuwan Muslim lainnya yang merasa gelisah atas ketertinggalan umat Islam dalam berbagai bidang. Pada tahun 1981, Al Faruqi mendirikan International Institute of Islamic Thought (IIIT), dan pada tahun 1982, IIIT bekerja sama dengan International Islamic University Islamabad untuk mengadakan First International Conference of Islamic Thought and Islamization of Knowledge. Meskipun psikologi tidak secara langsung dibahas dalam konferensi tersebut, ide Islamisasi ilmu psikologi semakin berkembang. Sebelumnya, gagasan mengenai psikologi Islam telah dimulai, salah satunya melalui International Symposium on Psychology and Islam di Universitas Riyadh pada 1978. Malik Babikir Badri, pada tahun yang sama, telah menerbitkan buku The Dilemma of Muslim Psychologists, yang mengkritik psikologi modern dan psikolog Muslim yang kurang kritis terhadap pendekatan Barat.

 

2.     Malik Babikri Badri (1932-Sekarang)

Malik Babikir Badri adalah tokoh utama dalam pengembangan psikologi Islam. Lahir di Sudan pada 16 Februari 1932, Badri menyelesaikan pendidikan sarjana dan master di American University of Beirut (1956-1958) dan meraih gelar Ph.D. dari University of Leicester pada 1961. Ia kemudian menjadi profesor di University of Riyadh pada 1971. Selain terdaftar di British Psychological Society, Badri aktif di UNESCO dan pernah menjadi dekan di Universitas Khartoum dan Universitas Juba di Sudan. Ia juga mendirikan International Association of Muslim Psychologists (IAMP) dan menjabat sebagai presiden pertama.

Karya terkenalnya, The Dilemma of Muslim Psychologists (1978), mengkritik psikolog Muslim yang tidak secara kritis menerima teori psikologi modern, yang menurutnya kurang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Badri juga menilai aliran psikologi seperti behaviorisme, psikoanalisis, dan client-centered therapy tidak relevan dengan konteks non-Barat. Kritik terhadap psikoanalisis berkaitan dengan pemahaman yang terlalu fokus pada dorongan seksual yang tidak disadari, sedangkan kritik terhadap terapi berbasis klien menyatakan bahwa proses terapi harus melibatkan nilai-nilai yang lebih dalam.

Dalam bidang terapi, Badri mengembangkan teknik baru dalam Systematic Desensitization untuk mengatasi kecemasan dan fobia. Selain itu, ia juga mengkombinasikan terapi kognitif dengan Spiritually Oriented Mindfulness and Acceptance Therapy untuk mengatasi gangguan obsessive-compulsive.

 

3.     Perkembangan Psikologi Islam

Perkembangan psikologi Islam kini semakin pesat dan diakui oleh psikologi modern. Berbagai karya ilmiah dan kegiatan ilmiah terkait psikologi Islam terus berkembang, dengan beberapa universitas bahkan mulai memasukkan psikologi Islam dalam kurikulum program studi psikologi. Sekolah Tinggi Ilmu Psikologi Islam pertama di dunia, Khartoum School of Psychology, berdiri pada tahun 1977 di Sudan.

Malik B. Badri mendirikan International Association of Muslim Psychologists (IAMP), yang rutin mengadakan konferensi psikologi Islam, dengan konferensi terakhir di Yogyakarta pada 2016, bertema Child Psychology: An Islamic and Cultural Perspective. IAMP sudah mengadakan lima konferensi internasional.

Dalam penelitian mengenai psikologi Islam dalam sepuluh tahun terakhir, lima tema utama muncul: integrasi psikologi Barat dengan nilai Islam, pengakuan terhadap sejarah psikologi Islam, model teoretis psikologi Islam, pengembangan teknik intervensi berbasis Islam, dan pengembangan instrumen pengukuran. Beberapa terapi seperti Islamic Cognitive Behavior Therapy dan Islamic Psychotherapy untuk gangguan kecemasan telah dikembangkan.

Di Indonesia, wacana psikologi Islam mulai berkembang pada 1990-an. Pada 1992, diterbitkan jurnal KALAM yang memuat pemikiran psikologi Islam, dan Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Indonesia (FOSIMAMUPSI) dibentuk untuk memperkenalkan psikologi Islam di kalangan mahasiswa. Simposium Nasional Psikologi Islami pertama diadakan pada 1994, dan diikuti oleh simposium lainnya hingga 2001. Pada 2002, Asosiasi Psikologi Islami (API) dideklarasikan, dan pada 2015, namanya diubah menjadi Asosiasi Psikologi Islam.

Sejak saat itu, banyak karya ilmiah telah diterbitkan, termasuk buku-buku tentang psikologi Islam, dan jurnal ilmiah yang berfokus pada tema ini, seperti Jurnal Psikologi Islam yang diterbitkan oleh API. Kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan psikologi Islam juga terus diadakan oleh perguruan tinggi, API, dan konsorsium lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno

Perkembangan Psikologi di Pendidikan Indonesia

Expressive Writing pada Penurunan Stress Akademik Mahasiswa