PSIKOLOGI TRANSPERSONAL
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Munculnya
psikologi transpersonal dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor sosial,
budaya, politik di Amerika Serikat; maraknya penggunaan obat psychodelic yang
dapat mengubah persepsi, kognisi dan kesadaran seseorang; dan ketidakpuasan
terhadap aliran-aliran pemikiran sebelumnya.
1. Faktor
Sosial, Budaya, dan Politik
Abraham Maslow telah memprediksi kemunculan aliran
baru dalam psikologi. Prediksi tersebut tidak lepas dari perubahan sosial,
budaya dan politik yang terjadi di Amerika Serikat. Munculnya gerakan
kontrak-budaya terhadap ketidakpuasan kondisi dan budaya yang dijalani selama
ini. Hal ini mencangkup, keinginan perempuan untuk mendapatkan persamaan hak
dalam berbagai aspek kehidupan, protes kaum minioritas untuk diperlakukan
secara adil, munculnya kesadaran masyarakat Amerika untuk bertindak diluar dari
kebiasaan budanyanya, dan munculnya ketertarikan masyarakat Amerika pada aspek
spiritualitas.
2. Faktor
Penggunaan Psychodelic Drugs
Pengguaan Psychodelic Drugs atau dikenal juga
dengan nama Era Psychodelic Drugs yang terjadi pada awal tahun 1960
sampai pertengahan 1970-an guna Mendapatkan pengalaman psychedelic. Penggunaan
psychodelic drugs juga dimanfaatkan untuk kepentingan terapi. Stan Gorf
sebagai pionir dalam mengguakan LCD untuk pengobatan ketergantungan pada obat
terlarang, berpendapat bahwa LCD dapat memperkaya pengalaman transpersonal yang
disampaikan pasien yang belum pernah pasien alami dalam kehidupan nyata.
3. Ketidakpuasan
terhadap Aliran Pemikiran Sebelumnya
Aliran psikologi behaviorisme, psikoanalisis dan
humanistik tidak tertarik dengan aspek spiritual manusia, yang menjadi pokok
inti psikologi transpersonal. Aliran behaviorisme, tidak tertarik pada
pembahasan pengalaman spiritual dan perilaku beragama. Psikoanalisa Freud,
telah membahas spiritualitas, akan tetapi menurutnya pengalaman tersebut
hanyalah ekspresi dari konflik ketidaksadaran dan salah satu bentuk gangguan
mental. Rogers, salah satu tokoh penting humanistik berpendapat bahwa agama
tidak baik pada kesehatan mental seseorang. Rogers tidak menyukai agama secara
formal terkhusus agama yang konservatif, fundamentalis, sewenang-wenang, dan
menindas. Rogers terbuka dengan pengalaman spiritual yang dialami kliennya dan
menganggap bahwa pengalaman tersebut merupakan salah satu bentuk aktualisasi
diri.
Abraham Maslow, sebagai tokoh utama psikologi
humanistik, ternyata juga merasa kurang puas dengan pendekatan ini. Perhatian
utamanya bukan pada eksistensi, melainkan pada esensi. Ia banyak mengeksplorasi
nilai-nilai, makna puncak, aspek spiritual, dan konsep aktualisasi diri.
Melalui penelitiannya, Maslow menyimpulkan bahwa individu yang telah mencapai
aktualisasi diri memiliki dorongan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai
transenden yang bersifat universal. Selain determinasi diri dan kebebasan
berkehendak, manusia juga memiliki kebutuhan akan moralitas dan transendensi
diri.
Temuan ini membuat Maslow mempertimbangkan fokusnya,
apakah tetap pada kebutuhan manusia atau beralih ke dimensi yang lebih luas,
yaitu cosmos atau trans-human. Akhirnya, bersama tokoh lain, ia mendirikan
psikologi transpersonal yang lebih berpusat pada dimensi spiritualitas manusia.
Dalam pandangannya, psikologi humanistik dianggap sebagai tahap transisi menuju
psikologi yang lebih tinggi, yakni psikologi transpersonal, yang melampaui
kepentingan manusia dan berfokus pada dimensi kosmos. Hal ini menegaskan peran
Maslow dalam menjembatani psikologi humanistik dan transpersonal.
B. B. Tokoh-tokoh
Sebelum Munculnya Psikologi Transpersonal
Gagasan psikologi
transpersonal telah muncul jauh sebelum istilah tersebut dikenal luas. Beberapa
tokoh seperti Richard Maurice Bucke, William James, Carl Gustav Jung, dan
Roberto Assagioli sudah menyampaikan pemikiran yang berhubungan dengan aspek
transpersonal. William James disebut sebagai orang pertama yang menggunakan
istilah "transpersonal" pada 1905 dan mendukung penelitian fenomena
keagamaan dengan pendekatan ilmiah. Carl Gustav Jung juga menekankan pentingnya
spiritualitas dalam psikologi, berbeda dengan pandangan Freud yang melihat
pengalaman spiritual sebagai gangguan mental. Jung memandang individuasi
sebagai proses psikospiritual untuk mencapai integrasi dan kemanusiaan yang
utuh.
1. Richard
Maurice Bucke (1837-1902)
Richard Maurice Bucke adalah seorang psikiater asal
Kanada yang dikenal melalui karyanya Cosmic Consciousness yang
diterbitkan pada tahun 1901. Teori cosmic consciousness Bucke berawal dari
pengalaman mistiknya sendiri. Suatu malam setelah membaca puisi karya Whitman,
Bucke merasa dikelilingi cahaya dan kebahagiaan mendalam. Pengalaman serupa
terulang saat ia bertemu langsung dengan Whitman, yang memunculkan perasaan
euforia dan kesejahteraan mental selama enam minggu.
Berdasarkan
pengalaman dan penelitiannya, Bucke mengembangkan teori bahwa kesadaran manusia
terdiri atas tiga tingkatan:
·
Simple consciousness:
Kesadaran dasar yang juga dimiliki hewan, mencakup kesadaran terhadap tubuh dan
lingkungan.
·
Self consciousness:
Kesadaran manusia pada umumnya, termasuk kesadaran terhadap identitas diri,
pikiran, dan perasaan.
·
Cosmic consciousness:
Tingkat kesadaran tertinggi, yang hanya dimiliki sebagian individu, mencakup
kesadaran akan kehidupan semesta dan tatanannya. Ciri-cirinya meliputi
peningkatan moralitas, perasaan kebahagiaan, kesadaran akan kehidupan kekal,
dan pengalaman spiritual yang mendalam.
Konsep cosmic consciousness Bucke menggambarkan
potensi manusia untuk melampaui kesadaran biasa menuju pemahaman mendalam
tentang hubungan antara diri dan semesta.
2. Roberto
Assagioli (1888-1974)
Roberto Assagioli, lahir di Venice pada 1888 dan wafat
pada 1974. Ia adalah seorang psikiater yang belajar psikoanalisis dari Carl
Gustav Jung dan terinspirasi oleh William James. Assagioli menyelesaikan
doktoralnya di Universitas Florence pada 1910 dengan disertasi tentang
Psikosintesis, yang mengandung kritik terhadap psikoanalisis. Meskipun
mengagumi psikoanalisis dan diakui oleh Jung sebagai calon penerus pemikiran
Freud di Italia, Assagioli mengembangkan pendekatan baru bernama Psikosintesis
pada awal 1910-an.
Psikosintesis menjadi ciri khas pemikirannya, yang ia
kembangkan dalam berbagai publikasi, termasuk buku A New Method of
Treatment: Psychosynthesis (1926). Sebagai salah satu pelopor psikologi
transpersonal, Assagioli merumuskan konsep penting seperti peak experience
dan dimensi transpersonal manusia. Ia mengkritik pendekatan Freud yang dianggap
terlalu reduksionis, kurang menghargai potensi positif manusia, serta
mengabaikan aspek spiritual. Pendekatan Psikosintesis menekankan pemahaman
manusia secara holistik, mencakup fisik, emosional, mental, dan spiritual.
a) Psikosintesis
Psikosintesis berasal
dari kata Yunani psyche (jiwa) dan synthesis (menggabungkan),
yang mencerminkan pendekatan untuk memahami manusia secara holistik dan
integratif. Konsep ini mencakup aspek fisik, emosional, mental, dan spiritual,
memperluas pembahasan psikologi tradisional dengan memasukkan dimensi spiritual
yang sering diabaikan. Psikosintesis tidak hanya menganalisis jiwa, tetapi juga
berusaha menyatukan berbagai elemen dalam diri manusia agar berkembang secara
menyeluruh, baik secara individu maupun interpersonal.
Selain sebagai model kepribadian, psikosintesis juga
menawarkan pendekatan psikoterapi yang berfokus pada dua aspek: mengatasi
masalah psikologis seperti trauma dan depresi (personal problems), serta
mendorong perkembangan spiritual dan transpersonal (transpersonal problems).
1. Personal
psikosintesis: membantu individu mengintegrasikan pengalaman hidup untuk
mencapai fungsi ego yang sehat.
2. Spiritual/transpersonal
psikosintesis: meningkatkan dimensi spiritual manusia, seperti kebutuhan akan
makna, pengalaman puncak, dan hubungan dengan Tuhan atau alam semesta.
Dengan pendekatan ini, psikosintesis berupaya
menciptakan individu yang berfungsi optimal secara psikologis dan spiritual. Pemikiran
Assagioli ini mendahului gagasan psikologi humanistik tentang aktualisasi diri
dan psikologi transpersonal tentang dimensi spiritual, menjadikannya salah satu
pelopor dalam bidang psikoterapi transpersonal.
b) Model
Jiwa Manusia
Assagioli, melalui pendekatan psikosintesis,
memperkenalkan model jiwa manusia yang digambarkan dalam diagram berbentuk
telur (The Egg Diagram). Model ini mencakup pemahaman berikut:
1. Batas Personal dan Kolektif
Bentuk oval melambangkan batas personal unconsciousness, sedangkan area
di luar oval mewakili collective unconsciousness, mirip dengan konsep
Jung.
2. Tiga Tingkatan Ketidaksadaran
a. Lower unconscious: Serupa dengan konsep Freud tentang id, bagian ini
menyimpan pengalaman negatif seperti rasa bersalah dan penghinaan, yang ditekan
ke alam bawah sadar tetapi tetap memengaruhi kesadaran.
b. Middle unconscious: Berisi elemen psikologis yang mudah diakses oleh
kesadaran dan menjadi dasar kepribadian.
c. Higher unconscious: Menyimpan potensi luhur seperti kebutuhan aktualisasi
diri, pengalaman spiritual, dan hubungan dengan Tuhan serta alam semesta. Fokus
utama psikosintesis ada pada level ini, berbeda dari psikoanalisis yang lebih
menekankan lower unconscious.
3. Garis Putus-Putus
Garis antara tingkatan kesadaran menunjukkan fleksibilitas, di mana hal yang
tidak disadari dapat menjadi disadari, dan sebaliknya. Ketidaksadaran juga
dapat memengaruhi kesadaran secara signifikan.
4. Aku (I) dan Diri (Self)
Aku adalah pusat kesadaran dan kehendak yang selalu menjadi subjek
pengalaman, sedangkan diri adalah aspek yang lebih tinggi, mencakup
kesadaran atas masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta pengalaman spiritual
dan kreatif.
Melalui model ini, Assagioli menekankan integrasi
seluruh aspek jiwa manusia untuk mencapai perkembangan holistik, baik secara
individu maupun transpersonal.
C. C. Tokoh-tokoh
Psikologi Transpersonal
Psikologi
transpersonal memiliki beberapa tokoh penting, di antaranya Ken Wilber,
Stanislav Grof, dan Robert Frager.
1. Ken
Wilber (1949–sekarang)
Ken Wilber, lahir pada 31 Januari 1949 di Oklahoma
City, berasal dari keluarga pilot yang sering berpindah tempat. Walaupun sering
berpisah dengan ayahnya, Wilber memiliki hubungan dekat dengan ibunya dan
menjalani masa kecil yang bahagia. Ia dikenal sebagai siswa yang cerdas dan
awalnya bercita-cita menjadi dokter. Namun, ia merasa bidang kedokteran tidak
sesuai dengan minatnya, sehingga beralih ke studi kimia, biologi, biofisika,
dan biokimia di University of Nebraska, Lincoln.
Pada 1960-an, era psychedelic, Wilber mulai
tertarik pada perubahan kesadaran melalui metode seperti seni, spiritualitas,
dan meditasi. Ia terinspirasi oleh karya Tao Te Ching dan beralih mendalami spiritualitas
Timur, filsafat, agama, dan metafisika. Selain itu, Wilber secara intens
mempraktikkan meditasi Zen untuk menjawab keresahan intelektual dan
eksistensialnya.
Pada 1973, ia menerbitkan buku pertamanya, The
Spectrum of Consciousness, yang menggambarkan kesadaran manusia sebagai
spektrum dengan berbagai dimensi. Wilber mengkritik pendekatan psikologi
konvensional yang dianggap tidak mampu menjelaskan spektrum kesadaran tersebut.
Ia kemudian memperkenalkan integral psychology, sebuah kerangka yang
mengintegrasikan berbagai pendekatan psikologi dan spiritualitas.
Karya-karyanya yang lain mencakup Sex, Ecology,
Spirituality (1995), A Brief History of Everything (1996), dan A Theory
of Everything (2000), yang semuanya memperkuat posisinya sebagai salah satu
pelopor dalam psikologi transpersonal.
Teori
Integral
Ken Wilber mengembangkan Teori Integral sebagai respon
terhadap beragam teori kesadaran yang sering kali bertentangan satu sama lain.
Teori ini bertujuan mengintegrasikan pandangan dari psikologi Barat dan Timur
agar saling melengkapi. Wilber ingin menyatukan seni, moral, dan sains, atau
yang disebutnya sebagai "I, we, dan it," yang mencerminkan keindahan,
kebaikan, dan kebenaran.
Gagasan ini pertama kali muncul dalam bukunya The
Spectrum of Consciousness (1977), sedangkan istilah Teori Integral secara
eksplisit disebut dalam Sex, Ecology, Spirituality (1995). Kerangka
dasar Teori Integral dikenal sebagai All Quadrants All Levels (AQAL).
AQAL menjelaskan bahwa pengalaman manusia dapat dipahami dari empat kuadran
perspektif:
1. Individual-Interior
(Subjektif/Intensional): Fokus pada persepsi, emosi, dan pengalaman pribadi.
2. Collective-Interior
(Intersubjektif/Budaya): Melihat nilai-nilai, norma, dan budaya dalam
masyarakat.
3. Individual-Exterior
(Objektif/Behavioral): Memahami perilaku dan aspek biologis individu.
4. Collective-Exterior
(Interobjektif/Sistem Sosial): Melibatkan struktur sosial dan sistem yang
memengaruhi individu.
Setiap kuadran menggambarkan interaksi kompleks antara
individu dan kolektif, serta antara interior (pikiran dan nilai) dan eksterior
(perilaku dan sistem). Contohnya, kasus perempuan korban KDRT yang tidak
melaporkan masalahnya dapat dianalisis melalui keempat perspektif: perilaku
diamnya (behavioral), penghayatan emosionalnya (subjektif), norma sosial
(kultural), dan ketiadaan sistem pendukung (sosial).
Selain kuadran, konsep lines dan levels of
development juga penting. Lines mencerminkan berbagai kecerdasan manusia
(misalnya kognitif, moral, emosional, dan spiritual) yang berkembang melalui
level atau tahap tertentu, seperti teori perkembangan kognitif Piaget atau
moral Kohlberg.
Wilber juga menekankan state of consciousness
sebagai aspek penting. Kesadaran seseorang dapat berupa kesadaran alami (natural
consciousness), perubahan kesadaran (altered states), atau
pengalaman puncak (peak experiences). Wilber menganggap bahwa kesadaran
individu dan kolektif saling memengaruhi, sebagaimana dikemukakan oleh Carl
Jung.
Teori Integral Wilber menawarkan pendekatan menyeluruh
untuk memahami manusia dan realitas, tanpa menempatkan satu perspektif lebih
unggul dari yang lain.
2. Stanislav
Grof (1931-Sekarang)
Stanislav Grof lahir pada 1 Juli 1931 di Cekoslovakia
dan merupakan seorang psikiater yang pernah menjabat sebagai Kepala Penelitian
Psikiatri di Maryland Psychiatric Research. Pada 1970-an, ia mendirikan International
Transpersonal Association dan menjadi presidennya. Fokus penelitian Grof
adalah Non-Ordinary States of Consciousness (NOSC), yang ia teliti sejak
1950-an, terutama mengenai penggunaan LSD dalam terapi.
Grof menemukan bahwa LSD dapat mengakses alam bawah
sadar klien dan membantu mengungkap memori yang terkubur, bahkan dari
pengalaman prenatal. Pengalaman-pengalaman ini dianggap dapat mempercepat
proses terapi, membantu menyembuhkan trauma, dan gangguan seperti skizofrenia.
Penelitiannya selama hampir 30 tahun dan lebih dari 2000 sesi membawanya pada
kesimpulan bahwa paradigma psikologi dan psikiatri perlu direvisi secara
drastis.
Dua kontribusi besar Grof adalah pengembangan Holotropic
Breathwork (teknik pernapasan yang dapat mengakses ketidaksadaran,
menggantikan LSD) dan pengembangan psikologi prenatal dan perinatal, yang
menekankan dampak psikologis pengalaman dalam rahim dan proses kelahiran. Grof
memandang manusia sebagai makhluk psychospiritual, dengan kesadaran yang
ada sepanjang hidup, termasuk sebelum kelahiran dan setelah kematian, yang
dapat dijelajahi melalui pelatihan spiritual seperti meditasi dan trance.
Holotropic
Breathwork
Holotropic Breathwork
adalah teknik eksplorasi diri dan psikoterapi yang dikembangkan oleh Stanislav
Grof bersama istrinya, Christina Grof. Kata "holotropic" berasal dari
bahasa Yunani yang berarti "bergerak menuju keutuhan." Teknik ini
memungkinkan individu untuk mengakses ketidaksadaran, baik dari domain
perinatal maupun transpersonal. Holotropic Breathwork menggabungkan
teknik pernapasan yang intens, musik yang menggugah, dan kerja tubuh, yang
terinspirasi dari berbagai praktik ritual dan spiritual budaya dunia.
Pernapasan merupakan elemen utama dalam teknik ini,
dengan tujuan untuk mengubah kesadaran. Dalam banyak tradisi spiritual,
pernapasan dianggap sebagai cara menghubungkan tubuh, jiwa, dan roh. Grof
menyederhanakan teknik pernapasan ini dengan cara bernapas lebih cepat dan
dalam dari biasanya, hingga menemukan ritme yang nyaman. Musik juga memainkan
peran penting dalam Holotropic Breathwork, digunakan untuk memobilisasi
emosi yang terpendam dan membantu klien menghadapi serta melepaskan pengalaman
traumatik.
Selama sesi, ketegangan tubuh yang muncul akibat
pernapasan intens bisa mengungkapkan masalah fisik atau psikologis yang pernah
dialami individu. Intensitas pernapasan ini menyebabkan perubahan kimia dalam
tubuh, yang memungkinkan emosi-emosi traumatik yang tertekan untuk disadari dan
diselesaikan. Klien diminta untuk menyerahkan diri secara total, mengikuti
alunan musik dan pernapasan, serta mengekspresikan diri secara spontan.
3. Robert
Frager (1940-Sekarang)
Robert
Frager lahir 20 Juni 1940. Ia adalah pendiri The Institute of Transpersonal
Psychology dan penulis beberapa buku penting, termasuk Heart, Self, and
Soul yang mengupas tentang psikologi sufi. Frager mengembangkan psikologi
sufi dengan pendekatan yang berbeda dari psikologi modern. Psikologi sufi,
menurutnya, memandang manusia sebagai perwujudan ruh ilahi yang harus
diselaraskan dengan tuntutan batiniah, sedangkan psikologi modern cenderung
lebih materialistik dan terbatas pada tubuh serta pikiran.
Psikologi
Sufi
Psikologi Sufi menurut Robert Frager, yang dipaparkan
dalam bukunya Heart, Self, and Soul, menjelaskan perbedaan mendasar
antara psikologi sufi dan psikologi modern. Dalam psikologi sufi, alam semesta
dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang mencerminkan kehadiran-Nya, sementara
psikologi modern melihatnya sebagai materi. Sufi juga menganggap hati spiritual
sebagai aspek penting manusia, di mana tujuan hidup adalah menyingkap ruh ilahi
dan mengikuti tuntutan batiniah.
Berbeda dengan psikologi modern yang sering melihat
manusia dari sudut pandang keterbatasan atau potensi positif, psikologi sufi
meyakini manusia memiliki potensi yang lebih besar, bahkan lebih tinggi dari
malaikat. Kesadaran manusia dalam psikologi sufi dianggap lebih luas, melampaui
kesadaran rasional dan berkembang menuju kesadaran spiritual, yang memungkinkan
penyatuan dengan Tuhan.
Keakuan (ego) dalam psikologi sufi dibagi menjadi dua:
positif dan negatif. Keakuan negatif, yang terkait dengan egoisme, menghalangi
hubungan manusia dengan Tuhan. Psikologi sufi juga menganggap kepribadian
sebagai gabungan berbagai sifat yang harus disatukan untuk berkembang, berbeda
dengan pandangan psikologi modern yang melihat kepribadian sebagai suatu
konstruk utuh.
Psikologi sufi mengakui kecerdasan spiritual yang
lebih tinggi untuk memahami kebenaran dan makna hidup, sementara psikologi
modern lebih menekankan rasio dan logika. Dalam hal pengetahuan, psikologi sufi
memandang bahasa sebagai terbatas dan meyakini bahwa kebenaran dapat melampaui
rasionalitas.
Frager juga menjelaskan bahwa hati, yang bukan hanya
organ fisik tetapi qalbu (hati spiritual), berfungsi sebagai tempat percikan
ilahi dan pengatur psikis manusia, seperti halnya jantung yang mengatur tubuh.
Qalbu membantu menjaga keseimbangan psikis dengan kearifan dan cahaya, serta
penyucian diri dari sifat-sifat negatif.
D. Psikologi
yang Berbasis Agama
Sebelum ilmu
psikologi muncul, agama sudah memberikan pemahaman mengenai hakikat dan
karakteristik manusia. William James, seorang tokoh psikologi, mengakui hal ini
dengan menunjukkan penghormatannya terhadap ajaran agama yang telah lama
membahas tentang manusia. James bahkan menyatakan bahwa biksu Anagarika
Dharmapala lebih pantas mengajarkan psikologi daripada dirinya, menandakan
pengakuan terhadap agama yang sudah lebih dulu berbicara mengenai hal tersebut.
Hal ini kemudian
melahirkan berbagai bentuk psikologi yang dibangun berdasarkan agama, seperti
Psikologi Islam, Psikologi Kristen, dan Psikologi Buddha. Dalam hal ini,
Psikologi Islam menjadi contoh utama psikologi berbasis agama. Psikologi Islam
mengacu pada pandangan Islam tentang manusia, yang bersumber dari Al-Qur'an dan
As-sunah, sambil tetap mempertimbangkan prinsip ilmiah. Psikologi Islam
memandang manusia tidak hanya dari sisi biologis, psikologis, dan sosial,
tetapi juga dari dimensi rohani atau spiritual, yang tidak diperhatikan oleh
banyak aliran psikologi lainnya.
Menurut Psikologi
Islam, dimensi spiritual adalah sisi jiwa yang memiliki sifat ilahiyah dan
mempengaruhi dimensi lainnya dalam diri manusia. Meskipun dimensi spiritual ini
tidak bisa diukur dengan cara konvensional, Psikologi Transpersonal menunjukkan
bahwa dimensi spiritual manusia bisa dipelajari secara ilmiah, meskipun tidak
dengan ukuran materialisme dan rasionalisme semata.
Psikologi Islam
dibangun berdasarkan epistemologi Islam, yang menilai pengetahuan tidak hanya
berasal dari penelitian ilmiah terhadap ayat kauniyah (alam semesta), tetapi
juga dari ayat qauliyah (Al-Qur'an dan As-sunah). Kedua sumber pengetahuan ini
saling mengonfirmasi dan tidak akan bertentangan, karena keduanya berasal dari
pengetahuan ilahi. Meski begitu, psikologi Islam tetap memperhatikan prinsip
ilmiah dalam metode penelitiannya.
1. Latar
Belakang Kemunculan Psikologi Islam
Kemunculan psikologi Islam berhubungan erat dengan ide
Islamisasi ilmu pengetahuan, yang pertama kali digagas oleh Ismail Razi Al
Faruqi pada tahun 1980-an. Al Faruqi, dalam bukunya Islamization of
Knowledge: General Principles and Workplan (1982), mengungkapkan
kekhawatirannya terhadap kondisi umat Islam yang terpuruk, yang disebabkan oleh
sistem pendidikan yang lebih mengutamakan materi dan metodologi dari luar
tradisi Islam, menjauhkan umat dari ajaran Islam. Al Faruqi mengusulkan untuk
mengubah sistem pendidikan dengan islamisasi pengetahuan modern.
Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh ilmuwan Muslim
lainnya yang merasa gelisah atas ketertinggalan umat Islam dalam berbagai
bidang. Pada tahun 1981, Al Faruqi mendirikan International Institute of
Islamic Thought (IIIT), dan pada tahun 1982, IIIT bekerja sama dengan
International Islamic University Islamabad untuk mengadakan First
International Conference of Islamic Thought and Islamization of Knowledge.
Meskipun psikologi tidak secara langsung dibahas dalam konferensi tersebut, ide
Islamisasi ilmu psikologi semakin berkembang. Sebelumnya, gagasan mengenai
psikologi Islam telah dimulai, salah satunya melalui International Symposium
on Psychology and Islam di Universitas Riyadh pada 1978. Malik Babikir
Badri, pada tahun yang sama, telah menerbitkan buku The Dilemma of Muslim
Psychologists, yang mengkritik psikologi modern dan psikolog Muslim yang
kurang kritis terhadap pendekatan Barat.
2. Malik
Babikri Badri (1932-Sekarang)
Malik Babikir Badri adalah tokoh utama dalam
pengembangan psikologi Islam. Lahir di Sudan pada 16 Februari 1932, Badri
menyelesaikan pendidikan sarjana dan master di American University of Beirut
(1956-1958) dan meraih gelar Ph.D. dari University of Leicester pada 1961. Ia
kemudian menjadi profesor di University of Riyadh pada 1971. Selain terdaftar
di British Psychological Society, Badri aktif di UNESCO dan pernah menjadi
dekan di Universitas Khartoum dan Universitas Juba di Sudan. Ia juga mendirikan
International Association of Muslim Psychologists (IAMP) dan menjabat sebagai
presiden pertama.
Karya terkenalnya, The Dilemma of Muslim
Psychologists (1978), mengkritik psikolog Muslim yang tidak secara kritis
menerima teori psikologi modern, yang menurutnya kurang sesuai dengan
nilai-nilai Islam. Badri juga menilai aliran psikologi seperti behaviorisme,
psikoanalisis, dan client-centered therapy tidak relevan dengan konteks
non-Barat. Kritik terhadap psikoanalisis berkaitan dengan pemahaman yang
terlalu fokus pada dorongan seksual yang tidak disadari, sedangkan kritik
terhadap terapi berbasis klien menyatakan bahwa proses terapi harus melibatkan
nilai-nilai yang lebih dalam.
Dalam bidang terapi, Badri mengembangkan teknik baru
dalam Systematic Desensitization untuk mengatasi kecemasan dan fobia.
Selain itu, ia juga mengkombinasikan terapi kognitif dengan Spiritually
Oriented Mindfulness and Acceptance Therapy untuk mengatasi gangguan obsessive-compulsive.
3. Perkembangan
Psikologi Islam
Perkembangan psikologi Islam kini semakin pesat dan
diakui oleh psikologi modern. Berbagai karya ilmiah dan kegiatan ilmiah terkait
psikologi Islam terus berkembang, dengan beberapa universitas bahkan mulai
memasukkan psikologi Islam dalam kurikulum program studi psikologi. Sekolah
Tinggi Ilmu Psikologi Islam pertama di dunia, Khartoum School of Psychology,
berdiri pada tahun 1977 di Sudan.
Malik B. Badri mendirikan International Association
of Muslim Psychologists (IAMP), yang rutin mengadakan konferensi psikologi
Islam, dengan konferensi terakhir di Yogyakarta pada 2016, bertema Child
Psychology: An Islamic and Cultural Perspective. IAMP sudah mengadakan lima
konferensi internasional.
Dalam penelitian mengenai psikologi Islam dalam
sepuluh tahun terakhir, lima tema utama muncul: integrasi psikologi Barat
dengan nilai Islam, pengakuan terhadap sejarah psikologi Islam, model teoretis
psikologi Islam, pengembangan teknik intervensi berbasis Islam, dan
pengembangan instrumen pengukuran. Beberapa terapi seperti Islamic Cognitive
Behavior Therapy dan Islamic Psychotherapy untuk gangguan kecemasan telah
dikembangkan.
Di Indonesia, wacana psikologi Islam mulai berkembang
pada 1990-an. Pada 1992, diterbitkan jurnal KALAM yang memuat pemikiran
psikologi Islam, dan Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Indonesia (FOSIMAMUPSI)
dibentuk untuk memperkenalkan psikologi Islam di kalangan mahasiswa. Simposium
Nasional Psikologi Islami pertama diadakan pada 1994, dan diikuti oleh
simposium lainnya hingga 2001. Pada 2002, Asosiasi Psikologi Islami (API)
dideklarasikan, dan pada 2015, namanya diubah menjadi Asosiasi Psikologi Islam.
Sejak
saat itu, banyak karya ilmiah telah diterbitkan, termasuk buku-buku tentang
psikologi Islam, dan jurnal ilmiah yang berfokus pada tema ini, seperti Jurnal
Psikologi Islam yang diterbitkan oleh API. Kegiatan ilmiah yang berkaitan
dengan psikologi Islam juga terus diadakan oleh perguruan tinggi, API, dan
konsorsium lainnya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar