Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno

Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno 1.      Definsi Psikologi dalam Konteks Yunani Kuno Sejarah psikologi terbagi dalam rentang waktu yang lama. Periode paling awal dari sejarah psikologi adalah pada zaman Yunani Kuno sebelum adanya penanggalan Masehi. Pada masa ini, psikologi masih menjadi bagian dari ilmu filsafat. Memasuki abad ke-5 hingga ke 6 Masehi, psikologi telah dihubungkan dengan dua teologi besar dari bangsa Yunani, yaitu Olympian dan Orfisme. Pada Abad Pertengahan, filsuf muslim seperti Al-Kindi mulai mengkaji tentang psikologi di dalam karya-karya tulisnya. Sejarah psikologi kemudian berlanjut pada abad ke-17 hingga abad ke-18 dengan status psikologi masih sebagai wacana yang kemudian mulai diperdebatkan. Perdebatan ini mengenai objek dan prosedur kajian yang layak dimasukkan sebagai bagian dari psikologi. Sejarah psikologi sebagai disiplin ilmiah yang terpisah dari filsafat dimulai pada akhir a...

RESUME MATERI SELF (PSIKOLOGI SOSIAL)

  • Diri (Self)

Leary dan Tangney (2003), self adalah kelengkapan psikologis yang dimana refleksi diri terhadap pengalaman sadar dapat mendasari jenis persepsi, kepercayaan dan perasaan tentang diri sendiri dan memungkinkan orang untuk meregulasi perilakunya sendiri. Self merupakan entitas yang menyadari, mengalami dan mengendalikan sensai, persepsi, perasaan, perilaku ataupun motivasi yang tidak hanya dapat mengambil pelajaran dari masa lalu akan tetapi, dapat meregulasi diri di masa kini dan merencanakan perilaku di masa depan.

            Aspek-aspek diri (self) umunya terbagi dua, yaitu

1.     Aspek Fisik

Material dari diri manusia yang bisa diamati, terukur dan tunduk pada hukum materi yang sifatnya universal. Aspek fisik ini berhubungan dengan warna kuliat, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, bentuk muka, jenis rambut, warna suara, kekuatan fisik, bentuk hidung, proporsi tubuh, kelengkapan anggota tubuh, dan lain-lain.

2.     Aspek Psikis

Aspek nonmaterial yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung. Aspek ini bersifat personal, sosial dan spiritual yang berhubungan dengan konsep diri, penerimaan diri, harga diri, kepercayaan diri, regulasi diri dan presentasi diri.

  • Persepsi Diri (self-perception theory)

Persepsi diri merupakan suatu proses pengorganisasian dan pemaknaan yang dilakukan individu terhadap diri sendir agar dapat memahaminya dengan baik. Menurut Dunning (2005) bahwa memahami diri secara akurat merupakan hal yang tidak mudah. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa pemahaman terhadap diri sendiri tidak lebih akurat dibandingkan pemahaman terhadap orang lain.

Adapun, karakteristik persepsi diri sebagai berikut:

1.     Persepsi diri bersifat selektif: fokus pada bagian tertentu saja dari beragam stimulus.

2.     Persepsi bersifat subjektif: stimulus yang awalnya objektif ketika diindra dan dipersepsi akan menjadi subjektif dikarenakan faktor karakter stimulus, karakter personal.

Self menjadi objek persepsi yang sangat penting, mudah diindra, diingat, dan diproses secara kognitif. Individu akan menjadi sensitif terhadap informasi yang berhubungan dengan dirinya sendiri dan efektif mengelola informasi yang berkaitan dengan dirinya.

  •       Metode Persepsi Diri

Menurut Brehm dan Kassin (1996), terdapat empat sumber memahami diri sendiri,                yaitu

1.   Introspeksi: peninjauan ke dalam diri sendiri, menggali memori tentang kejadian yang pernah dialami dan berdialog dengan diri sendiri.

2.     Pengamatan terhadap perilaku diri sendiri: cara memahami diri sama dengan cara kita memahami orang lain.

3.     Penilaian orang lain: individu tidak sepenuhnya memahami dirinya sendiri dengan baik akan tetapi membutuhkan pandangan atau bantuan orang lain untuk memahami dirinya.

Luft membagi self menjadi empat kategori, yaitu:

a.     Ruang terbuka atau open: meliputi pikiran, perasaan, perilaku yang diketahui oleh diri sendiri atapun orang lain.

b.     Ruang buta atau blind: meliputi pikiran, perasaan, perilaku yang tidak diketahui oleh diri sendiri akan tetapi diketahui oleh orang lain.

c.     Ruang rahasia atau private: meliputi pikiran, perasaan, perilaku yang tidak diketahui atapun orang lain, hanya diketahui oleh diri sendiri.

d.     Ruang gelap atau misterius: aspek diri yang tidak diketahui oleh diri sendiri maupun orang lain.

4.     Perbandingan sosial: ketika individu merasa tidak yakin akan pendapatnya, kemampuannya, dan tidak ada informasi objektid yang dapat dijadikan ukuran maka individu akan menggunakan orang lain sebagai pembanding. Perbandingan sosial bersifat downward (bawah) dan upward (ke atas)

Menurut Taylpr, Peplau, Sears (1997), terdapat tiga motif perbandingan sosial:

a.     Meningkatkan akurasi evaluasi diri: membandingkan diri dengan orang lain untuk mendapatkan pemahaman diri yang akurat.

b.     Self Enhancement: perbandingan sosial dengan maksud mendapatkan evaluasi diri yang lebih positif dengan cara melakukan downward social comparation.

c.     Self Improvement: perbandingan sosial dengan tujuan meningkatkan kemampuan dan kesuksesan diri dengan cara upward social compration, mendapatkan informasi yang dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan diri.

5.     Refleksi terhadap reaksi orang lain: orang lain berfungsi sebagai cermin sehingga kita bisa melihat diri sendiri (Charles Horton Cooley, 1902)

6.     Sosialisasi: identitas diri terbentuk melalui sosialisasi dengan kelompk masyarakat dengan mempelajari niali, keyakinan, kebiasaan kelompok sosial.

  •   Persepsi Diri dan Penilaian Sosial

Krueger, Alicke, Dunning (2005), terdapat empat isu mengenai hubungan persepsi diri terhadap penilaian sosial.

1.     Self sebagai sumber informasi memahami orang lain: persepsi kesamaan (perception similarity).

2.     Self sebagai sumber informasi memahami orang lain: persepsi perbedaan dan keunikan (perception difference and uniqeness).

3.     Self  sebagai standar dalam mengevaluasi orang lain.

4.     Self sebagai standar moral.

E.     Kesalahan-Kesalahan dalam Persepsi Diri

1.     Hallo Effect: melakukan penilaian keseluruhan terhadap diri sendiri atau orang lain berdasarkan informasi tertentu yang tampak menonjol.

2.     Cognitive Conservatism bias: kecenderungan tidak mau mengubah keyakinan atau pengetahuan tentang diri sendiri, terutama ketika mendapatkan informasi baru dan bertentangan dengan keyakinannya.

3.     Confirmation bias: cenderung menerima informasi yang relevan dengan keyakinan kita mengenai diri sendiri dan menolak informasi yang bertentangan dengan keyakinan diri.

4.     Barnum Effect: kecenderungan mengklaim gambaran umum tentang kepribadian tertentu, sesuai dengan karakteristik kepribadian dirinya sendiri.

5.     Favorability bias: kecenderungan menilai informasi positif tentang diri sendiri dibandingkan informasi negatif

6.     Self Fulfilling Prophecy: berperilaku meyakinkan dan memperteguh harapan-harapannya.

7.   Base Rate Fallacy: lebih memperhatikan dan fokus terhadap informasi spesifik dibandingkan dengan informasi umum.

8. Social Desirabilty bias: melaporkan informasi yang secara sosial diterima dan menyembunyikan informasi secara sosial tidak diterima.

9.  Efek negativitas: cenderung memberikan bobot lebih besar terhadap informasi negatif daripada informasi positif atau kecenderungan mengingat pengalaman negatif daripada pengalaman positif.

  •  Konsep Diri (Self Concept)

1.     Pengertian Konsep Diri

Konsep diri merupakan usaha seseorang memahami dirinya yang menghasilkan beragam pengetahuan mengenai diri sendiri (self knowladge) kemudian diorganisasikan dan membentuk konsep diri (self concept). Branden (1983) mendefinisikan konsep diri sebagai pikiran, keyakinan, dan kesan seseorang tentang sifat dan karakteristik dirinya, keterbatasan dan kapabilitasnya serta kewajiba dan aset-aset yang dimilikinya. Showers dan Zeigler Hill (2003) mengatakan bahwa konsep diri bersifat ideografik, setiap orang mempunyai konsepsi dan keyakinan untik mengenai dirinya sendiri.

2.     Proses Pembentukan Konsep Diri

Interaksi antara faktori bawaan genetik, biologis, pengalaman, dan pemrosesan kognitif dapat membentuk konsep diri seseorang (Tesser, 2002). Awalnya, konsep diri dianggap sebagai konstruk psikologis yang bersifat stabil dan umum (Markus dan Wurf, 1987) atau united (Baumeister, 1988). Namun, pada masa dewasa konsep diri dipandang sebagai konstruk psikologis yang dinamis (aktif, powerful, bisa berubah) dan multifacet (konsep diri beragam rupanya, tidak hanya satu).

3.     Konsep Diri sebagai Produk Konstruksi

Konsep diri terbentuk melalui konstruksi diri (self construction) dan konstruksi sosial (social construction). Dengan menggunakan kapasitas kognitif, seseorang dapat memilih dan memiliah informasi, mencari, memberikan atensi, menyimpan, mengingat kembali, mengelola, melupakan, mengorganisasikan informasi yang relevan dengan dirinya sehingga membentuk self theory  yang kuat.

4.     Isi dan Struktur Konsep Diri

Self representation fokus pada karakteristik diri yang secara sadar dikenali seorang individu melalui bahasa. Selain itu, representasi diri ada bersifat kognitif (cold aspect) dan nonkogntif (hot aspect) (Leart, 2007)

1.   Kognitif (cold aspect), bagaimana seseorang memproses informasi tentang dirinya dan mendefinisikan keterkarikan diri dengan lingkungan sosial.

2.  Nonkognitif (hot aspect), motivasi (self verification, self enhancement, self expansion) dan emosi (rasa bersalah, malu, bangga dan kecemasan sosial).

Markus dan Wurf (1987), membagi representasi diri berdasarkan kepentingannya, yaitu representasi diri utama (core self concept) dan representasi diri periperal (working self concept).

5.     Self Concept Clarity

Campbell (dalam Kernis & Goldman, 2003) berpendapat bahwa self concept clarity merupakan konsep diri seseorang secara internal konsisten, stabil dan dipegang dengan penuh keyakinan.

  • Harga Diri (Self Esteem)

Self Esteem sangat berpengaruh pada proses berpikir, emosi, keinginan, nilai-nilai, dan tujuan seseorang. Menurut Murk terdapat tiga klasifikasi definisi self esteem, yaitu sebagai suatu kompetensi, perasaan berharga, kompetensi dan perasaan berharga.

Branden berpendapat bahwa terdapat dua aspek dari self esteem adalah self efficacy dan self respect. Self esteem juga dipahami sebagai evaluasi dari konsep diri, kumpulan keyakinan mengenai atribut atribut yang dimiliki.

  • Regulasi Diri

Self Regulation adalah upaya mengendalikan pikiran, perasaan, dan perilaku dalam rangka mencapai suatu tujuan (Hoftmann, Friese, Strack, 2009; Reynolds, Penfold, dan Patak, 2008). Dalam triadic model of self regulation terdapat tiga bentuk pengaturan diri yang harus dilakukan:

1.     Covert regulation: pengaturan kognitif dan afektif sehingga mendukung proses pencapaian tujuan.

2.     Behavioral regulation: pengaturan prilaku yang menjadi prasyarat bagi tercapainya tujuan.

3.     Environmental regulation: pengamatan dan pengelolaan lingkungan sehingga support terhadap proses pencapaian tujaun.

Menurut Vosh dan Baummeter (2004), ketidakmampuan melakukan regulasi diri mempunyai dampak yang luas baik pada masalah personal maupun sosial karena kekurangmampuan didalam melakukan regulasi diri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahman, A. A. (2022). Psikologi sosial: Integrasi pengetahuan wahyu dan pengetahuan empirik (Edisi kedua). PT Raja Grafindo Persada. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Psikologi Masa Yunani Kuno

Perkembangan Psikologi di Pendidikan Indonesia

Expressive Writing pada Penurunan Stress Akademik Mahasiswa